cereniteas

tags: angst, mcd, reincarnation au


Sinar mentari di pagi hari menerobos masuk melalui jendela kamar Xiao. Suara cicit burung yang berebut di luar sana sontak membangunkannya. Matanya mengerjap pelan. Sang pemilik surau hijau gelap itu menarik selimutnya kembali, dinginㅡ adalah yang ia rasakan pagi ini.

“Xiao, bangun” Suara seorang pria terdengar di seberang pintu kamarnya.

“Xiao. Lihat kalendermu, sekarang hari apa” Ucapnya lagi.

Xiao akhirnya bangkit dari ranjangnya dengan langkah gontai. Ia berdiri menuju meja di sisi pojok kamarnya untuk melihat kalender.

13 September.

Ah, sudah 1 tahun, rupanya.


“Xiao!” Seorang pemuda memanggil Xiao dengan mata berbinar. Parasnya begitu apik, dengan iris berwarna hijau teal yang bulat, serta rambut pirang terang yang dibiarkan tergerai.

Xiao tersenyum dan menghampiri pemuda yang usianya lebih muda beberapa bulan saja darinya.

“Di mana pengawalmu?” Xiao bertanya.

“Aku suruh dia jalan-jalan di sekitar sini. Tenang saja” Jawabnya.

Xiao hanya mengangguk.

“Albedo” Xiao memanggil nama pemuda tersebut dengan pelan.

“Ya?”

“Hmm.. Gapapa”

“Hah?”

“Gapapa. Ga jadi ngomong”

Tidak apa-apa. Xiao hanya sedang mengangumi paras elok lelaki di hadapannya saat ini.

“Aku hari ini bawa bunga” Ucap pemuda bernama Albedo tersebut.

“Bunga?”

“Iya! Kemarin aku jalan-jalan di taman rumahku, terus aku lihat banyak banget bunga yang lagi mekar!”

Ah, iya juga. Albedo adalah putra mahkota yang hidup di istana, jelas saja kehidupannya berbeda dengan Xiao

“Kamu bisa merangkai bunga, Xiao?”

Xiao menggeleng pelan.

“Kalo gitu, aku ajarin cara merangkai bunga ya! Minggu lalu aku sempat belajar merangkai bunga sama salah satu pelayan”

Albedo ini seorang bangsawan, sudah jelas, ia serba bisa.

Xiao hanya nengangguk. Albedo mulai mengeluarkan beberapa tangkai bunga yang telah ia bawa. Bunga Cecilia, Qingxin, Glaze Lily, Silk Flower, dan banyak bunga lainnya. Albedo sengaja memetiknya dari taman istananya.

“Hati-hati, nanti tangan kamu kena durinya” Albedo berucap.

Xiao kembali mengangguk. Keduanya kini sibuk merangkai bunga. Sesekali, keduanya akan bercanda dan saling melempar tawa.

“Selesai” Ucap Albedo saat ia telah menyelesaikan rangkaingan bunga miliknya.

“Coba lihat punya kamu” Ucapnya pada Xiao.

Xiao memperlihatkan karangan bunganya.

“Kenapa cuma pake 1 bunga?”

“Emang ga boleh?”

“Boleh. Maksud aku, kenapa kamu pilih pake bunga Cecilia?”

“Nggak papa. Aku suka aja. Bunga Cecilia mirip sama White Lily soalnya” Xiao menjawab.

“Emang kalo White Lily kenapa?”

“White lilies symbolise purity and rebirth. Kayak kamu”

Albedo menaikkan alisnya sedikit. “Maksud kamu?”

“Kamu mirip sama bunga lily putih. Sama-sama tulus dan bersih. Semenjak kenal kamu, aku ngerasa hidup lagi, sama kayak makna bunga lily putih, hidup kembali”

Albedo sedikit tercengang dengan jawaban Xiao.

“Aneh-aneh aja” Ia menjawab, dengan tersenyum.

“Al sini deh”

Albedo menoleh ke arah Xiao, dan detik itu juga, detak jantungnya berdegub kencang.

“Cantik” Ucap Xiao.

Sang pemiluk surai pirang tersebut mematung sejenak. Pasalnya, Xiao baru saja meletakkan sebuah bunga lily putih di telinganya.

“A... M... Makasih” Jawabnya gugup.

Lengkung bulan sabit terbentuk pada garis bibir Xiao. Ia benar-benar bersyukur telah mengenal Albedo selama hampir 2 tahun ini. Mereka tidak selalu bertemu, hanya sekali dalam sebulan, atau bahkan sekali dalam 2 bulan. Tapi Xiao selalu menantikan hari itu. Hari saat keduanya akan menghabiskan waktu bersama.

“Al”

“Iya Xiao kenapa?”

“Kalo aku bisa hidup lagi, aku mau kenal sama kamu lagi”

“He? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?”

“Aku kepikiran sama makna bunga lily putih itu. Rebirth. Kalo aku bisa lahir lagi, aku mau jadi temen kamu lagi. Makannya aku pasangin bunga lily di telinga kamu, biar kalo kamu hidup lagi, kita bisa tetep saling kenal” Jelasnya.

Bohong jika Albedo tidak tersentuh dengan untaian kata Xiao. Ia juga ingin bisa mengenal Xiao selamanya.

“Makasih banyak, Xiao. Aku juga berharap demikian”


“Pagi, Albedo. Nggak terasa, udah 1 tahun, ya”

“Aku baru aja keinget pertemuan kita 1 tahun lalu, tepatnya, 1 bulan sebelum pertemuan terakhir kita. Aku masih ingat semuanya dengan jelas. Tentang gimana kamu ngajarin aku ngerangkai bunga, dan tentang harapanku mengenai bunga lily putih”

“Mungkin nggak ya, harapan aku terkabul? Pasti mungkin, kan? Kita bakal ketemu lagi, kan, Al?”

Iris mata Xiao mulai bergetar, matanya berkaca-kaca, tak sanggup membendung air mata yang sudah sangat ingin ia keluarkan sejak tadi.

“Al.. Aku sekarang sendirian. Nggak ada kamu lagi di sisiku. Aku sekarang hidup cuma sama ayah. Ibu dan Qiqi juga udah pergi, mereka nyusulin kamu”

Albedo menarik nafasnya perlahan, lalu mengeluarkannya dengan tenang.

“Selamat ulang tahun, Albedo”

Dihapusnya air mata yang telah membasahi pipi Xiao sejak tadi. Telapak tangannya, berkali-kali mengusap batu nisan di sampingnya.

“Happy birthday, Albedo. Even if you're no longer here in this world, everything deserves to be celebrated, right? I will never forget you. Even if i die, i will search for you again, in another life, Albedo”

Suara langkah kaki yang menuju ke arahnya membuat Xiao akhirnya menoleh.

“Xiao. Ayo pulang. Kamu udah seharian di makam Albedo”

Adalah suara Zhongli, ayah Xiao, yang menjemputnya untuk pulang.

“Ayah. Abis ini kita mampir dulu ke makam ibu sama Qiqi ya?”

Zhongli hanya mengangguk.


Teruntuk Albedo, sang putra mahkota, pewaris tahta kerajaan.

Terima kasih karena sudah pernah hadir dalam hidup. Sebuah pertemuan pasti harus diakhiri dengan perpisahan, bukan? Tidak apa-apa. Aku masih punya harapan dengan bunga lily putih waktu itu. Baik kamu maupun aku, kita akan lahir kembali, dan di saat itulah, aku akan kembali mengenalmuㅡ bukan, bukan hanya mengenalmu, tapi mencintaimu. Selamat ulang tahun, Albedo. Apa kau juga merayakan ulang tahunmu di nirwana atas sana?

Dari Xiao, anak seorang petani biasa, yang secara tidak sengaja jatuh cinta dengan putra kerajaan. Ku harap kita bisa segera bertemu.

Angin yang berhembus di sore hari melalui jendela laboratorium sesaat menyegarkan pikiran Albedo. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan setengahnya. Ah, banyak sekali pekerjaanku yang belum terselesaikan, pikirnya. Sudah beberapa hari ini Albedo selalu berkutat di laboratorium tempatnya bekerja, meneliti sample sample data, hingga melakukan berbagai macam eksperimen tentang kimia. Xiao tidak begitu mengerti tentang pekerjaan Albedo, tapi yang jelas, ia tahu, suaminya selalu bekerja keras dalam hal apapun.

Saat bulan purnama dan gemerlap bintang mulai menampakkan wujudnya, Albedo akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.

“Ah, sudah pukul 9 malam. Xiao pasti sudah tidur” Ia bergumam dalam hati.

Tak lama kemudian, samar-samar Albedo mendengar bunyi getar dalam totebag yang ia bawa. Rupanya, ia lupa untuk menyalakan mode suara karena seharian ini ponselnya berada dalam mode heningㅡ tuntutan pekerjaan, agar tidak menganggu.

“Xiao?” Albedo menjawab panggilan telepon saat itu juga.

“Oh, aku baru saja selesai”

“Apa? Kamu mau jemput aku? Tapi ini udah jam 9 lebih, Xiao”

“Aku bisa pulang taksi, kok”

“Ah, baiklah, baiklah. Tidak akan habisnya kalau debat ini kita lanjutkan. Aku tunggu kamu di supermarket dekat tempat kerjaku ya”

“Baiklah. Hati-hati, Xiao”


Sesampainya di apartment, Albedo segera berlalu menuju kamar mandi guna membersihkan badannya.

“Kamu laper, nggak?” Yang lebih tua bertanya ketika ia melihat Albedo tengah berjalan hendak mengambil handuknya.

“Hm.. Lumayan, tapi nggak laper-laper banget, sih. Waktu nunggu kamu jemput, aku udah minum kopi segelas, soalnya”

“Minum kopi mana bikin kenyang” Jawabnya.

“Perutku nggak kayak perutmu yang laper terus, Xiao” Albedo menimpali.

“Aku masakin ramen, mau? Aku mau makan berdua bareng kamu”

Sang pemilik surai pirang mengangguk. “Kalo gitu aku mandi dulu, ya” Jawabnya.


Xiao telah menyelesaikan acara masak-memasaknya. Setelah menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama Albedo, Xiao jadi lebih jago memasak. Sesekali, ia akan minta diajarkan memasak oleh Albedo, dan tentu saja, Albedo dengan senang akan mengajarinya. Xiao yang awalnya bahkan tidak bisa memecah telur dengan apik, kini ia sudah bisa memasak ramen dan beberapa makanan lainnya.

“Udah mateng?” Albedo berjalan pelan ke arah suaminya, sebuah handuk putih kecil masih tergantung di kepalanya.

Xiao berbalik, sejenak ia menatap lelaki di hadapannya. Mereka sudah menikah selama 1 tahun dan berpacaran selama 2 tahun, tapi Xiao, berapa kalipun ia menatap paras Albedo, ia akan jatuh cinta lagi. Bulu mata si pirang yang lentik, kilau hijau emerald yang terpancar dari iris matanya, lalu bibir merah mudanya yang terlihat lembab, serta rambut pirangnya yang digerai bebas dan masih sedikit basah. Xiao kembali dibuat jatuh cinta.

“Xiao? Kamu kenapa?” Tanyanya.

“Ah, gapapa. Oh ini udah jadi ramennya. Sebentar aku pindah ke mangkuk dulu”

“Biar aku ambilin mangkuknya” Albedo bergerak sedikit lebih cepat dari suaminya.

Xiao hanya mengangguk dan menunggu suaminya mengambil 2 mangkuk dari rak tempat piring.

“Enak ngga?” Sang pemilik surai hijau tua bertanya.

Albedo mengangguk bersemangat. Keduanya kini tengah menikmati makanan mereka di balkon, Albedo yang menyarankan, menurutnya, langit malam ini sangat cerah. Ia ingin menikmati malam hari yang tenang ini bersama suaminya.


Usai menikmati makanan mereka, Albedo memilih untuk membawa masuk mangkuk berserta gelas bekas mereka makan. Ia mencuci peralatan makannya untuk sejenak, lalu kembali ke balkon untuk menemani suaminya.

“Al”

“Hm?”

“Kamu hari ini ngapain aja?”

“Hm.. Aku ngerjain macem-macem di lab. Neliti sampel-sampel kayak biasa, sih. Kalo tadi, aku banyak neliti sample darah pasien sih. Terus, tadi pas aku masih mau ngambil mikroskop, dikit lagi mikroskopnya bakal jatuh! Gara-garanya aku masih pake sarung tangan, jadi tanganku licin”

Xiao menatap lelaki di hadapannya dengan tenang, tanpa berkedip sedikitpun. Ia suka saat Albedo bercerita banyak tentang harinya.

Listening to your stories has become my hobby.

Ia mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia masih, dan akan selalu memerhatikan cerita Albedo.

“Capek nggak?” Ia kembali bertanya.

“Capek, lah. Mana akhir-akhir ini aku lembur terus. Berangkat pagi, pulang malem. Banyak banget yang harus dikerjain di lab. Ngumpulin data dan sampel, bikin laporan, ngurus ini itu, macem-macem. Ketemu kamu juga cuma kalo malem doang, padahal kita udah nikah”

Xiao kembali tersenyum. Ia senang saat Albedo mengeluh, saat ia mengeluarkan keluh kesahnya.

I wanna listen to all your worries. Let me share your load. So you can break free from the heavy burden you've been carrying.

Baginya, Albedo adalah kebahagiaannya. Ia ingin memastikan pada Albedo bahwa ia tidak sendiri.

“Makasih, ya” Xiao akhirnya berucap.

“Hah? Makasih buat apa?”

“Karena kamu udah mau cerita sama aku. Aku seneng dengerin cerita kamu. Kamu boleh cerita apa aja aku, mau ngeluh, mau marah, luapin aja semuanya ke aku. Kalo kamu punya masa-masa sulit, kamu bisa cerita ke aku. Until your cloud of worries disappear from your clear eyes, Al”

Albedo balik terdiam. Ia akhirnya menatap paras lelaki di hadapannya. Ah, betapa bahagianya ia mempunyai Xiao sebagai pelengkap hidupnya

Sebuah lengkungan tergambar di bibir sang surai pirang. Senyum yang begitu cantik, hingga Xiao ingin menyimpan senyum itu hanya untuk dirinya. Ia tidak mau dunia melihat senyum seindah dan secantik milik Albedo. Egois, tapi Xiao benar-benar mengagumi senyum elok suaminya.

“Aku suka kalo kamu senyum” Ucapnya, tiba-tiba.

“Hah?”

For no other reason, I like you. When I look at you smile, there is nothing more I could ask for. Because I just like you.

“Aku suka liat senyum kamu. Kamu selalu keliatan paling cantik kalo lagi senyum, tapi, kamu nggak perlu maksa diri kamu buat senyum terus ya. Kalo lagi sedih, kamu boleh nangis. Aku cuma nggak mau kamu nahan beban apapun sendirian. We're husbands now, right? Kita udah bukan orang asing seperti 3 tahun lalu” Lanjutnya.

Albedo kembali menatap iris mata lelaki di hadapannya. 1 tahun pernikahan, tentunya cukup banyak yang terjadi di antara keduanya. Tawa, canda, tangis, dan kebahagiaan, mereka berdua sudah pernah merasakan semuanya bersama.

Even though you look the prettiest when you smile. When you just wanna cry, don't fake a smile.

“Makasih ya” Albedo akhirnya berbicara. Singkat, namun ketulusan begitu terlihat dalam ucapannya. Dari caranya berbicara, dari caranya tersenyum, hingga dari matanya yang saat ini membentuk sebuah garis lurus.

“Xiao, aku mungkin udah ngomongin ini berkali-kali. Tapi, aku bener-bener bersyukur bisa ketemu kamu lagi di kehidupan ini. Aku bersyukur kita bisa bersama lagi. Kamu juga selalu mastiin aku biar aku baik-baik aja. All the thing you've ever did to me, thank you so much, Xiao”

Xiao balik tersenyum. “Its all because i like you, sayang”

Albedo terdiam sejenak.

“Aku suka kamu, sejak pertemuan pertama kita di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan kita hari ini. Aku selalu suka sama kamu” Lanjutnya.

Dinginnya angin malam hari mulai mereka rasakan. Gemerlap bintang malam ini masih menemani keduanya. Albedo sedikit lebih lama menatap iris mata lelaki di hadapannya, yang juga dibalas tatap oleh Xiao. Ah, dunia serasa hanya milik berdua.

Perlahan tatapan Albedo terarah ke bibir lelaki di hadapannya. Lantas wajah pemuda itu bergerak mendekat ketika Xiao memejamkan mata. Detik di mana bibir mereka bertemu, Albedo bisa merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia suka, ia suka saat dirinya mencium Xiao tanpa ada penolakan. Sebuah ciuman singkat yang manis dan hangat, Albedo menyukainya.

Usai bibir mereka bertemu untuk beberapa saat, Albedo menarik kembali wajahnya, namun terlambat. Tangan Xiao lebih dulu mendorong leher Albedo untuk kembali mempertemukan bibir mereka. Kali ini, Xiao yang mendominasi. Lidahnya beberapa kali ia selipkan pada mulut manis Albedo. Kepala Albedo benar-benar panas, kupu-kupu dalam perutnya seperti berebut untuk mengepakkan sayapnya. Udara dingin malam ini benar-benar tak ada artinya bagi Albedo yang saat ini hanya bisa memejamkan matanya. Tak apa, ia juga suka Xiao yang seperti ini.

“Udah makin malem, ayo tidur” Ucap Xiao saat ia akhirnya menyelesaikan ciuman panasnya dengan suaminya.

Albedo hanya mengangguk. Ditangkapnya tangan lelaki yang sudah lebih dulu berdiri dan menyalurkan tangannya.

I just really love you. You're the only reason why I really love you. When I see you smile I just can't get enough. And I can't live without you. Baby I just really love you.


2021, based on Seo Changbin & Lee Felix's song, Because I Like you.

Angin yang berhembus di sore hari melalui jendela laboratorium sesaat menyegarkan pikiran Albedo. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di laboratorium. Ah, banyak sekali pekerjaanku yang belum terselesaikan, pikirnya. Sudah beberapa hari ini Albedo selalu berkutat di laboratorium tempatnya bekerja, meneliti sample sample data, hingga melakukan berbagai macam eksperimen tentang kimia. Xiao tidak begitu mengerti tentang pekerjaan Albedo, tapi yang jelas, ia tahu, suaminya selalu bekerja keras dalam hal apapun.

Saat bulan purnama dan gemerlip bintang mulai menampakkan wujudnya, Albedo akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.

“Ah, sudah pukul 9 malam. Xiao pasti sudah tidur” Ia bergumam dalam hati.

Tak lama kemudian, samar-samar Albedo mendengar bunyi getar dalam totebag yang ia bawa. Rupanya, ia lupa untuk menyalakan mode suara karena seharian ini ponselnya berada dalam mode heningㅡ tuntutan pekerjaan, agar tidak menganggu.

“Xiao?” Albedo menjawab panggilan telepon saat itu juga.

“Oh, aku baru saja selesai”

“Apa? Kamu mau jemput aku? Tapi ini udah jam 9 lebih, Xiao”

“Aku bisa pulang taksi, kok”

“Ah, baiklah, baiklah. Tidak akan habisnya kalau debat ini kita lanjutkan. Aku tunggu kamu di supermarket dekat tempat kerjaku ya”

“Baiklah. Hati-hati, Xiao”


Sesampainya di apartment, Albedo segera berlalu menuju kamar mandi guna membersihkan badannya.

“Kamu laper, nggak?” Yang lebih tua bertanya ketika ia melihat Albedo tengah berjalan hendak mengambil handuknya.

“Hm.. Lumayan, tapi nggak laper-laper banget, sih. Tapi waktu nunggu jemputan kamu aku udah minum kopi segelas, soalnya”

“Minum kopi mana bikin kenyang” Jawabnya.

“Perutku nggak kayak perutmu yang laper terus, Xiao” Albedo menimpali.

“Aku masakin ramen, mau? Aku mau makan berdua bareng kamu”

Sang pemilik surai pirang mengangguk. “Kalo gitu aku mandi dulu, ya” Jawabnya.


Xiao telah menyelesaikan acara masak-memasaknya. Setelah menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama Albedo, Xiao jadi lebih sering memasaka. Sesekali, ia akan minta diajarkan memasak oleh Albedo, dan tentu saja, Albedo dengan senang akan mengajarinya. Xiao yang awalnya bahkan tidak bisa memecah telur dengan apik, kini ia sudah bisa memasak ramen dan beberapa makanan lainnya.

“Udah mateng?” Albedo berjalan pelan ke arah suaminya, sebuah handuk putih kecil masih tergantung di kepalanya.

Xiao berbalik, sejenak ia menatap lelaki di hadapannya. Mereka sudah menikah selama 1 tahun, dan berpacaran selama 2 tahun, dan Xiao, berapa kalipun ia menatap paras Albedo, ia akan jatuh cinta lagi. Bulu mata si pirang yang lentik, kilau hijau emerald yang terpancar dari iris matanya, lalu bibir merah mudanya yang terlihat lembab, serta rambut pirangnya yang digerai bebas dan masih sedikit basah. Xiao kembali dibuat jatuh cinta.

“Xiao? Kamu kenapa?” Tanyanya.

“Ah, gapapa. Oh ini udah jadi ramennya. Sebentar aku pindah ke mangkuk dulu”

“Biar aku ambilin mangkuknya” Albedo bergerak sedikit lebih cepat dari suaminya.

Xiao hanya mengangguk dan menunggu suaminya mengambil 2 mangkuk dari rak tempat piring.

“Enak ngga?” Sang pemilik surai hijau tua bertanya.

Albedo mengangguk bersemangat. Keduanya kini tengah menikmati makanan mereka di balkon, Albedo yang menyarankan, menurutnya, langit malam ini sangat cerah. Ia ingin menikmati malam hari yang tenang ini bersama suaminya.


Usai menikmati makanan mereka, Albedo memilih untuk membawa masuk mangkuk berserta gelas bekas mereka makan. Ia mencuci peralatan makannya untuk sejenak, lalu kembali ke balkon untuk menemani suaminya.

“Al”

“Hm?”

“Kamu hari ini ngapain aja?”

“Hm.. Aku ngerjain macem-macem di lab. Neliti sampel-sampel kayak biasa, sih. Kalo tadi, aku banyak neliti sample darah pasien sih. Terus, tadi pas aku masih mau ngambil mikroskop, dikit lagi mikroskopnya bakal jatuh! Gara-garanya aku masih pake sarung tangan, jadi tanganku licin”

Xiao menatap lelaki di hadapannya dengan tenang, tanpa berkedip sedikitpun. Ia suka saat Albedo bercerita banyak tentang harinya.

Listening to your stories has become my hobby

Ia mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia masih, dan akan selalu memerhatikan cerita Albedo.

“Capek nggak?” Ia kembali bertanya.

“Capek, lah. Mana akhir-akhir ini aku lembur terus. Berangkat pagi, pulang malem. Banyak banget yang harus dikerjain di lab. Ngumpulin data dan sampel, bikin laporan, ngurus ini itu, macem-macem. Ketemu kamu juga cuma kalo malem doang, padahal kita udah nikah”

Xiao kembali tersenyum. Ia senang saat Albedo mengeluh, saat ia mengeluarkan keluh kesahnya.

I wanna listen to all your worries Let me share your load So you can break free from the heavy burden you've been carrying

Baginya, Albedo adalah kebahagiaannya. Ia ingin memastikan pada Albedo bahwa ia tidak sendiri.

“Makasih, ya” Xiao akhirnya berucap.

“Hah? Makasih buat apa?”

“Karena kamu udah mau cerita sama aku. Aku seneng dengerin cerita kamu. Kamu boleh cerita apa ke aku, mau ngeluh, mau marah, luapin aja semuanya ke aku. Kalo kamu punya masa-masa sulit, kamu bisa cerita ke aku. Until your cloud of worries disappear from your clear eyes, Al”

Albedo balik terdiam. Ia akhirnya menatap paras lelaki di hadapannya. Ah, betapa bahagianya ia mempunyai Xiao sebagai pelengkap hidupnya

Sebuah lengkungan tergambar di bibir sang surai pirang. Senyum yang begitu cantik, hingga Xiao ingin menyimpan senyum itu hanya untuk dirinya. Ia tidak mau dunia melihat senyum seindah dan secantik milik Albedo. Egois, tapi Xiao benar-benar mengagumi senyum elok suaminya.

“Aku suka kalo kamu senyum” Ucapnya, tiba-tiba.

“Hah?”

For no other reason, I like you When I look at you smile, there is nothing more I could ask for Because I just like you

“Aku suka liat senyum kamu. Kamu selalu keliatan paling cantik kalo lagi senyum, tapi, kamu nggak perlu maksa diri kamu buat senyum terus ya. Kalo lagi sedih, kamu boleh nangis. Aku cuma nggak mau kamu nahan beban apapun sendirian. We're husband now, right? Kita udah bukan orang asing seperti 3 tahun lalu” Lanjutnya.

Albedo kembali menatap iris mata lelaki di hadapannya. 1 tahun pernikahan, tentunya cukup banyak yang terjadi di antara keduanya. Tawa, canda, tangis, dan kebahagiaan, mereka berdua sudah pernah merasakan semuanya bersama.

Even though you look the prettiest when you smile When you just wanna cry, don't fake a smile

“Makasih ya” Albedo akhirnya berbicara. Singkat, namun ketulusan begitu terlihat dalam ucapannya. Dari caranya berbicara, dari caranya tersenyum, hingga dari matanya yang saat ini membentuk sebuah garis lurus.

“Xiao, aku mungkin udah ngomongin ini berkali-kali. Tapi, aku bener-bener bersyukur bisa ketemu kamu lagi di kehidupan ini. Aku bersyukur kita bisa bersama lagi. Kamu juga selalu mastiin aku biar aku baik-baik aja. All the thing you've ever did, thank you so much, Xiao”

Xiao balik tersenyum. “Its all because i like you, sayang”

Albedo terdiam sejenak.

“Aku suka kamu, sejak pertemuan pertama kita di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan kita hari ibu. Aku selalu suka sama kamu”

Dinginnya angin malam hari mulai mereka rasakan. Gemerlap bintang malam ini masih menemani keduanya. Albedo sedikit lebih lama menatap iris mata lelaki di hadapannya, yang juga dibalas tatap oleh Xiao. Ah, dunia serasa hanya milik berdua.

Perlahan tatapan Albedo terarah ke bibir lelaki di hadapannya. Lantas wajah pemuda itu bergerak mendekat ketika Xiao memejamkan mata. Detik di mana bibir mereka bertemu, Albedo bisa merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia suka, ia suka saat dirinya mencium Xiao tanpa ada penolakan. Sebuah ciuman singkat yang manis dan hangat, Albedo menyukainya.

Usai bibir mereka bertemu untuk beberapa saat, Albedo menarik kembali wajahnya, namun terlambat. Tangan Xiao lebih dulu mendorong leher Albedo untuk kembali mempertemukan bibir mereka. Kali ini, Xiao yang mendominasi. Lidahnya beberapa kali ia selipkan pada mulut manis Albedo. Kepala Albedo benar-benar panas, kupu-kupu dalam perutnya seperti berebut untuk mengepakkan sayapnya. Udara dingin malam ini benar-benar tak ada artinya bagi Albedo yang saat ini hanya bisa memejamkan matanya. Tak apa, ia juga suka Xiao yang seperti ini.

“Udah makin malem, ayo tidur” Ucap Xiao saat ia akhirnya menyelsaikan ciuman panasnya dengan suaminya.

Albedo hanya mengangguk. Ditangkapnya tangan lelaki yang sudah lebih dulu berdiri dan menyalurkan tangannya.

I just really love you You're the only reason why I really love you When I see you smile I just can't get enough And I can't live without you Baby I just really love you


2021, based on Seo Changbin & Lee Felix's song, Because I Like you.

felix dan changbin kini telah berada di mobil. changbin segera menjalankan mobilnya, tak lupa, ia juga memutar lagu.

“mellow banget lagunya” komentar felix saat changbin memilih untuk memutar lagu talking to the moon milik bruno mars di mobilnya.

“biarin. gue emang suka dengerin lagu ballad di mobil waktu hujan. rilex aja didengernya” jawab changbin.

felix hanya meliriknya, tanpa ia sadari, bibirnya tertarik membuat lengkungan senyum.

i know you're somewhere out there somewhere far away i want you back i want you back my neighbors think I'm crazy but they don't understand you're all I have you're all I have

tanpa sadar, felix juga ikut menyanyikan lagu itu dengan lirih. changbin yang mendengarnya hanya meliriknya sebentar, lalu tersenyum. changbin menjalankan mobilnya dengan pelan, menikmati perjalanannya di kala hujan bersama felix.

talking to the moon tryin' to get to you in hopes you're on the other side talking to me too or am I a fool who sits alone talking to the moon

“lix” panggil changbin memecah keheningan di mobil.

“ya hyung?”

“gue boleh minta nomor lo?”

“buat apa?”

“ya buat gue lah. biar gue punya nomor lo” jawab changbin sambil terus menyetir.

karena cuaca hujan deras, jalanan menjadi cukup macet, ditambah, hari sudah sore dan banyak pekerja kantoran yang juga mulai pulang.

“nih hp gue” changbin memberikan ponselnya dengan satu tangan kepada felix dan felix menerimanya.

“tulis aja nomer lo di hp gue”

felix hanya mengangguk. ia mulai menulis nomornya pada ponsel changbin.

“aku kasih nama apa kontaknya?”

“cowo australia yang nabrak gue 3 bulan yang lalu”

felix memandang ke arah changbin dengan kesal.

“ya felix lah. emang siapa lagi”

felix segera menulis namanya dan mengembalikan ponsel tersebut kepada changbin.

“jangan buat macem-macem” pinta felix.

“ngga kok. paling gue kasihin ke tukang kredit aja biar lo ditagih-tagih” goda changbin.

“hyung!” ucap felix dengan sedikit marah.

“iya-iya haha serius banget sih lo”

tak lama, changbin sampai di depan rumah felix.

“kita sudah sampai, tuan. silakan turun” changbin lagi-lagi menggodanya.

“hyung!” kali ini, felix memukul kecil lengan changbin.

“iya iya haha”

felix segera turun dari mobil dan berpamitan kepada changbin.

“terima kasih banyak hyung” felix menundukkan badanya saat ia sudah di luar mobil.

“sama-sama. kapan-kapan kalo lo mau, lo boleh kok pulang bareng gue lagi, biar gue juga ga sendirian di jalan”

felix yang mendengarnya mendadak tersipu.

“gue jalan dulu” ucap changbin.

“dahh. hati-hati di jalan, hyung”

felix melambaikan tangannya dan memberi ucapan selamat tinggal pada changbin. changbinpun segera menancapkan gas dan menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan felix yang terdiam menatap kepergian changbin dengan semburat merah di pipinya.

rabu, pukul 16.00.

felix berjalan menyusuri lorong gedung. di luar sedang turun hujan. ia terus berjalan hingga sampai di lobi gedung fakultasnya. hujan masih belum reda. felix menengadahkan tangannya, mencoba merasakan rintikan hujan yang jatuh ke telapak tangannya.

“deres banget. kayanya hujannya bakal awet” gumam felix dalam hati.

teman-temannya, seungmin dan jisung, sudah pulang terlebih dahulu, sedang hyunjin ada perkumpulan ukm. kelas mereka sebenarnya selesai sejak pukul 15.00, hanya saja, felix sempat mampir ke perpustakaan untuk meminjam buku hingga tanpa sadar, hujanpun turun.

felix menyilangkan tangan di dadanya, terlihat sedikit kesal dengan keadaan sekarang. ia tidak membawa payung hari ini, dan jarak dari kampus ke tempat pemberhentian bus cukup jauh.

felix menghela nafas panjang, saat tiba-tiba seseorang datang mengagetkannya.

“felix?” sapa lelaki tersebut.

“c-changbin hyung?” jawab felix.

“ga bawa payung?”

“i-itu.. i-iya..” jawab felix sambil menundukkan kepalanya.

“hujannya deres banget. kayanya bakal awet” kali ini giliran changbin yang bergumam sendiri.

keduanya berdiri bersampingan, menatap turunnya air hujan dari langit untuk beberapa saat.

“mau pulang bareng?” tawar changbin tiba-tiba.

“h-hah?”

“lo gue anterin pulang. gimana?”

felix hanya memandang keheranan.

“lo ga bawa payung, kan? jarak ke halte juga lumayan jauh. ini udah hampir petang, loh”

lagi-lagi, felix merasa bahwa perkataan changbin memang selalu masuk akal. tapi, mengingat bagaimana changbin menggodanya tempo hari saat di kantin, felix berniat menolak ajakannya.

“gue ke parkiran dulu. lo tunggu sini aja, ntar gue yang samperin lo ke sini. oke?”

belum sempat menjawab, changbin sudah berlari menuju parkiran, meninggalkan felix tanpa menunggu jawaban darinya.

tak lama kemudian, jisung dan hyunjin datang menghampiri felix di kantin fakultas. seungmin sudah lebih dulu masuk kelas karena ia tidak mau ramai-ramai menjemput temannya.

“lix” panggil hyunjin dan jisung.

“oh, hyunjin, jisung” balas felix.

“akhirnya dijemput juga sama pasukannya” goda changbin.

“apa sih hyung” jawab felix sedikit kesal.

“tapi kok cuma 2? yang satu mana?” changbin menggodanya lagi.

“bukan urusan hyung” felix segera berdiri, merapikan laptop dan bukunya yang masih di meja. hingga tanpa sadar, lengan kemejanya sedikit terbuka, menampakkan soulmark di pergelangan tangannya.

“aku balik dulu ya hyung, permisi” felix pamit dengan sopan, hanya dijawab dengan pandangan dari changbin.

'000? tanpa tanda coret?' changbin bergumam dalam hati dengan penuh rasa heran.

felix segera memposisikan dirinya menuju kantin fakultas seni. ia melihat satu meja kosong di arah jam 1 dan segera mendudukinya. setelahnya, felix membuka laptop dan mengerjakan beberapa tugas di dalamnya.

sesaat kemudian, seseorang tiba-tiba duduk di hadapan felix, dan membuat felix tersentak dan mengangkat wajahnya dari laptop menuju seseorang itu.

“c-changbin hyung?” ucap felix dengan sedikit kaget.

“yo felix” changbin menjawab dengan santai.

“h-hyung ngapain di sini?”

“ya duduk lah? ngapain lagi emangnya”

felix hanya menjawab dengan helaan napas.

“temen-temen lo pada di mana? tumben sendirian. ga dianggep temen ya?”

“hyung” felix mencoba memaksakan senyum.

“haha iya-iya. tapi kok lo sendirian sih? tumben. biasanya kemana-mana selalu berempat udah kaya member boyband”

“aku salah lihat jadwal” jawab felix.

“hah?”

“hah-hah mulu kaya tukang keong” ucap felix.

“oh ngebales nih ceritanya” goda changbin.

“ya aku salah lihat jadwal. hari ini kelasku diundur, tapi aku berangkat sesuai jadwal awal”

“oh. kasian banget”

felix memilih untuk diam dan tidak menjawab. ia tahu, senior di hadapannya ini memang sangat jail dengan kata-katanya.

“hyung sendiri ngapain di sini? ga punya temen juga?”

“dih sorry ya. se universitas juga pengennya jadi temen gue” jawab changbin sombong.

“aku enggak” tukas felix.

“ya lo pengennya jadi pacar gue kali” jawab changbin santai.

“uhuk” felix tersedak dan terbatuk-batuk.

“ga jelas” jawab felix cepat, hanya dijawab dengan senyum kecil oleh changbin.

ospek fakultas berakhir dengan lancar. para mahasiswa baru mendengarkan materi dari para pembicara dengan baik. mereka lantas diserahkan ke jurusan untuk mendapat bimbingan lebih lanjut tentang jurusannya.

malam ini adalah malam terakhir masa pengenalan kampus. seperti biasa, para mahasiswa baru berkumpul membuat lingkaran dengan beberapa senior mereka. mereka bermain beberapa games, dan tidak lupa acara minum-minum.

felix duduk di samping jisung. mereka sudah berkumpul selama kurang lebih satu jam, dan felix sudah hampir mencapai batas toleransi alkoholnya. felix sudah minum 2 gelas, dan kepalanya hampir berkunang-kunang, namun felix tetap berusaha menahannya.

“felix! haha ayo minum lagi!” seru salah seorang senior.

felix terlihat tidak nyaman. jisung beberapa kali menenangkannya.

“lix, udah ya? apa perlu aku bilang ke sunbaenim?”

felix hanya menjawab dengan gelengan.

senior tersebut menuangkan alkohol ke dalam gelas dan berniat memberikannya kepada felix, namun saat felix hampir meraihnya, sebuah tangan terlebih dahulu meraihnya.

seo changbin. pemuda itu segera mengambil gelas tersebut dan menengguknya. changbin duduk berjarak 2 orang di samping felix.

bahkan hingga putaran permainan selanjutnya, felix kembali mendapat giliran untuk minum. entahlah, apakah hari ini felix sedang sial, atau mungkin senior tersebut sengaja membuat felix minum, dan, tentu saja, changbin lagi-lagi mengambil giliran minum felix. felix hanya melihatnya sambil kebingungan.

**

“hyung, terima kasih” ucap felix.

acara sudah selesai. felix menghampiri changbin yang sedang bersiap berjalan menggunakan alat bantu jalannya.

changbin menoleh menatap ke arah felix.

“lain kali jangan polos-polos banget jadi orang” jawab changbin dengan nada dingin.

“maksud hyung?”

“kalo udah ga kuat tuh bilang aja kali. ga usah sok gapapa. yang tau batasnya kan lo sendiri” jawab changbin.

felix menunduk.

“lo udah mau pulang?” tanya changbin.

“i-iya”

“yaudah, temenin gue dulu nunggu jemputan” pinta jawab.

“h-hah?” tanya felix kebingungan.

“gue ga bisa nyetir, jadi terpaksa dijemput sopir. gue minta lo nemenin gue nungguin jemputan gue dateng”

“ah b-baik hyung”

felix segera menyusul changbin di sampingnya dan berjalan menuju parkiran bersama.

“lo pulang naik apa?” tanya changbin.

“taxi” jawab felix cepat.

“jam segini?”

“iya”

“lo bukan asli sini kan?”

“d-dari mana hyung tau?”

“keliatan. logat lo juga keliatan bukan orang sini”

felix hanya menunduk.

“apa ini pertama kalinya lo ke korea?”

“dulu banget, waktu kecil, aku pernah sekali kesini. tapi setelahnya, ga pernah”

“lo asal mana?”

“australia”

“oh”

keduanya sampai di parkiran. felix dan changbin duduk di bangku kecil, berdampingan.

“lo pulang bareng gue aja” ajak changbin tiba-tiba.

“hah?”

“hah-hah mulu lo kaya tukang keong”

“t-tapi maksud hyung apa?”

“ya gue ngajak lo pulang bareng. udah hampir jam 12 malem, apa lo nggak takut naik taxi sendirian?”

felix hanya terdiam. ucapan changbin masuk akal juga. apalagi, felix baru satu minggu di korea.

tak lama, jemputan changbin datang dan changbin segera mengajak felix. felix yang tidak punya pilihan lain akhirnya mengikutinya dan duduk di bangku penumpang sendiri.

“rumah lo jauh ga dari kampus?” tanya changbin saat keduanya sudah jalan.

“nggak kok. 20 menit sampai”

malam itu, felix pulang ke rumahnya, diantar seniornya yang bernama seo changbin, oh, atau mungkin lebih tepatnya, diantar oleh sopir milik seo changbin.

“sekali lagi terima kasih banyak hyung” felix mengucapkan terima kasih sembari membungkukkan badannya.

“sama-sama. gue cabut dulu. dah, felix”

“hati-hati di jalan hyung”

changbinpun segera menutup jendela mobilnya dan bergegas menuju rumahnya.

pukul 17.00

hari sudah semakin sore, sekarang waktunya penyerahan mahasiswa baru kepada fakultas masing-masing. tentu saja, felix diserahkan ke fakultas seni.

seorang pemuda duduk tidak jauh dari tempat mahasiswa berdiri, matanya memandang ke arah lelaki bersurai blonde, felix. pemuda itu menatap ke arah felix, merasa tidak asing dengan wajah yang ia lihat saat ini.

setelah mendengar penutupan dari panitia, mahasiswa baru segera diarahkan untuk menuju kelompok masing-masing, didampingi oleh satu kakak tingkat.

kelompok 5

lee felix kim seungmin han jisung hwang hyunjin

pendamping: seo changbin/lee minho

felix dan seungmin memandangi kertas berisi nama kelompok yang ditempelkan di dinding.

“kita satu kelompok!” ucap felix kegirangan.

“tapi.. kenapa pendamping kita 2 orang? bukannya tadi disebutkan hanya 1 ya?” ucap seungmin keheranan.

“iya juga ya”

“yasudah lah, ayo kita berkumpul di kelompok kita”

**

felix dan seungmin akhirnya menemukan kelompoknya. jisung dan hyunjin, keduanya juga jurusan seni tari. entah suatu kebetulan atau bukan, tapi mereka semua berasal dari satu jurusan, padahal kelompok lain terdiri dari banyak kelompok.

seorang pemuda yang lebih tua terlihat menghampiri felix dan kelompoknya.

“halo, adik-adik. selamat datang di kampus kami dan selamat menjadi mahasiswa” lelaki itu menyapa.

“nama gue lee minho, tapi biasa dipanggil lee know. gue disini yang bakal jadi pendamping kalian selama ospek jurusan. gapapa, santai aja. harusnya tahun ini gue semester 5, tapi gue sempet ambil cuti satu tahan karena cidera, makannya, sekarang gue cuma 1 tingkat di atas kalian. oh, dan, panggil gue hyung aja ya” pemuda itu melanjutkan sapaannya.

felix beserta teman-temannya hanya mengangguk memerhatikan ucapan lee know.

“oh, kalian mungkin bingung ya ngeliat di papan, nama pendamping kalian ada 2?”

“iya hyung” jawab seungmin.

“sebenernya, bukan gue yang bertanggung jawab jadi pendamping kalian, tapi temen gue. changbin, namanya. tapi, kakinya masih cidera, jadi dia gabisa banyak ngedampingin kalian. mungkin besok dia bakal nengokin kali, tapi kalau ada apa-apa, bilang ke gue aja ya”

“oh begitu..” jawab jisung.

“itu orangnya, disana” lee know menunjuk pada pemuda bernama changbin yang tengah duduk di bangku, tidak jauh dari tempat mereka berdiskusi.

felix terperanjat. ia mengenal wajah itu. kakak tingkat yang seharusnya menjadi pendampingnya itu adalah pemuda yang ia tabrak tempo hari lalu.

merasa diperhatikan, changbin akhirnya bangkit. ia berjalan dengan alat bantu jalannya, menghampiri kelompok felix.

“hai. gue changbin, yang seharusnya jadi pendamping kalian. sorry banget, kayanya gue ga bisa banyak membantu karena lo bisa liat sendiri kondisi gue sekarang”

felix menunduk, ia merasa bersalah.

“gapapa, ga perlu khawatir. gue kaya gini emang karena kesalahan gue sendiri. dan, kalo kalian butuh apa-apa, ga harus ke lee know kok. kalo gue bisa bantu, gue bakal bantu kalian sebisa mungkin” ucap changbin.

selesai perkenalan, lee know segera membagikan penugasan dan apa saja yang perlu disampaikan.

**

acara hari ini selesai. felix melangkahkan kaki untuk segera menuju gerbang keluar, saat seorang pemuda menghampirinya.

“lee felix, ya?” sapa pemuda tersebut.

felix menoleh. changbin. pemuda tersebut adalah changbin. felix kira, changbin tidak menyadari keberadaannya.

“i-iya, sunbae-nim” sapa felix, sembari menundukan kepalanya.

changbin tertawa kecil. “panggil gue hyung aja. anyway, kita ketemu lagi, ya?”

felix tidak berani menjawab.

“sampai bertemu besok, lee felix” changbin melontarkan satu kalimat terakhir dan segera meninggalkan felix begitu saja.

felix melangkahkan kaki menuju halaman kampus. sudah banyak mahasiswa baru di tengah sana. felix kebingungan, ia tidak yakin apakah dirinya harus bertanya kepada orang lain, mengingat kemampuan bahasa koreanya yang tidak terlalu lancar, ditambah logatnya yang terdengar aneh. felix bisa berbahasa korea, dia sudah belajar bahasa korea sejak kecil, hanya saja, karena ia jarang menggunakannya semasa di australia, lidahnya sedikit kaku untuk berbicara bahasa korea.

saat felix sedang bingung-bingungnya, seorang pemuda bersurai coklat tua menghampirinya.

“hm , halo?” sapa pemuda tersebut.

felix yang terlihat sedikit kaget segera membalas sapaan pemuda tersebut.

“ah, i-iya?”

“kau kelihatan sedikit bingung. apa ada masalah?” tanya pemuda tersebut.

“ah i-itu. sebenarnya, aku tidak tahu harus berkumpul di sebelah mana” jawab felix.

“kau jurusan apa?”

“aku? seni tari. bagaimana denganmu?”

“oh, kebetulan! aku juga seni tari. kakak panitia menyuruh kita untuk berkumpul di depan gedung A”

“ah b-begitu. terima kasih banyak”

“sama-sama. namamu siapa? aku seungmin”

“a-aku, felix”

“felix? kau bukan asli sini ya?”

“a-aku berasal dari australia. tapi kedua orang tuaku orang korea, kok”

“ah, begitu rupanya. ya sudah, kalau begitu, kita langsung ke sana sekarang saja, yuk”