accident
seorang pemuda terjatuh dari motornya. lukanya tidak parah, tapi lututnya berdarah, dan sepertinya terkilir. sang sopir taxi yang merasa bersalah akhirnya membawa pemuda tersebut klinik.
“maaf, tuan, apa tuan tidak apa-apa jika saya mengantar pemuda ini ke klinik dahulu? kebetulan ada klinik di dekat sini” sang sopir berbicara kepada felix.
“ah iya tidak apa-apa pak” jawab felix.
sang sopir segera menuntun pemuda tersebut untuk masuk ke taxi dan duduk di sebelah felix. felix hanya bisa menatapnya dengan khawatir.
“m-maaf” ucap felix kepada pemuda tersebut.
“gapapa, bukan salah lo. emang gue yang salah, mau nyalip tapi ga bisa ngira-ngira” pemuda tersebut menjawab sambil menahan sakit.
“hm, motor kamu, gimana? ditinggal gitu aja?” tanya felix.
“gapapa. gue udah nelfon temen gue buat jemput. ga lama lagi dia pasti datang. lagian orang-orang disini baik kok”
“ah.. gitu.. sekali lagi, maaf ya” felix tidak berhenti meminta maaf.
“gapapa, santai aja”
sesampainya di klinik, luka pemuda tersebut segera diobati. kakinya benar terkilir, untuk beberapa hari, pemuda tersebut terpaksa berjalan dengan alat bantu jalan.
tak lama, seorang pemuda yang terlihat lebih tua mendatangi pemuda tersebut.
“bin, lo gapapa?”
“gapapa hyung. kaki gue terkilir, terpaksa harus pake alat bantu jalan”
“a-anu. permisi. saya penumpang taksi yang menyerempet teman anda. saya benar-benar minta maaf” ucap felix sopan kepada teman pemuda tersebut.
“s-saya selaku sopir benar-benar minta maaf” disusul dengan permintaan sang sopir.
“saya udah bilang gapapa pak. memang salah saya yang nyalip ga kira-kira. oh, lo penumpang kan? berarti lo masih mau ke suatu tempat? tanya pemuda tersebut kepada felix.
“ah, i-iya. s-saya mau ke rumah orang tua saya”
“yaudah kalo gitu tinggal aja gapapa. pak, tolong anterin orang ini, ya” ucap pemuda tersebut.
“t-tapi”
“udah gapapa. gue disini sama temen gue”
akhirnya felix mengalah. setelah mengurus pembayaran dan biaya obat, felix segera meninggalkan pemuda tersebut dan bergegas menuju ke rumahnya.