cereniteas

Usai membalas pesan dari Perth, Chimon segera membuka aplikasi ojek online yang ada di ponselnya. Butuh waktu lama sampai akhirnya Chimon menemukan driver. Yah, maklum saja, ini sudah hampir jam 1 pagi. “Dengan kak Chimon, ya?” sapa sang driver saat ia sudah sampai di depan apartemen Chimon.

“Iya Pak,” jawab Chimon singkat.

“Tujuannya benar ke Club X ya kak? Ini kakak sendirian?”

“Iya. Temen saya mabok jadi saya mau jemput dia. Udah ya Pak, langsung jalan saja.”

Sang driver mengangguk dan memulai perjalanannya.


“Perth,” Chimon menemukan laki-laki surai hitam itu tengah menempelkan pipinya di atas meja kaca.

“Chiiiimoonnn,” jawabnya dengan mabuk.

“Lain kali kalo mau mabok tuh bawa temen lah anjing, gak usah sok mabok sendirian kalo akhirnya cuma nyusahin gue,” Chimon mengomel panjang lebar sembari ia membangunkan Perth dari posisinya.

Dengan susah payah, Chimon akhirnya berhasil menuntun Perth untuk berdiri dan berjalan hingga ke parkiran.

“Mana kunci mobil lo anjing,” Chimon bertanya dengan gusar.

“Saakuuuu celanaaa, Chiii.”

Chimon segera merogoh saku celana Perth di bagian belakang.

Usai memposisikan Perth di dalam mobil, Chimon kemudian duduk di kursi kemudi. Bersiap membawa mobil itu menuju apartemennya.

Kazuha dan Scaramouche berjalan beriringan menuju kelasnya yang terletak di paling pojok, XI MIPA 6. Sesekali Kazuha menyapa anak-anak kelas lain yang tengah mengobrol di depan kelas. Kazuha memang disenangi banyak orang, pembawaannya yang tenang dan ramah membuat siapa saja senang berteman dengan Kazuha.

“Kazuha?” salah seorang teman sekelas Kazuha memanggil saat Kazuha baru saja meletakkan tas punggungnya di meja, diikuti oleh Scaramouche yang duduk tepat di sebelahnya.

“Oh. Heizou? Kenapa?” jawabnya sambil tersenyum.

“Eh itu.. Maaf sebelumnya, aku mau minta tolong, boleh?”

“Boleh-boleh. Kenapa?”

“Itu.. Kemarin kan pas istirahat aku belum sempet keliling sekolahan karena diajak kenalan dan ngobrol sama temen-temen kelas. Terus rencananya hari ini aku mau minta ditemenin keliling sekolahan.”

“Oh, terus mau minta ditemenin gue, gitu? jawab Kazuha.

“Sebenernya aku tadi udah minta tolong sama Gorou, karena dia ketua kelas kan. Tapi tadi kata Gorou jam istirahat nanti ada rapat ketua kelas, jadi dia ga bisa nganterin keliling. Abis itu Gorou nyaranin buat coba bilang ke Kazuha, siapa tau mau, gitu.”

“I see.. Bisa kok bisa. Ntar gue temenin keliling-keliling sekolah, tenang aja.”

“Okay deh! Makasih banyak ya, Juju!” jawabnya sambil tersenyum.

“Kazuha, bukan Juju,” Scara yang sedari tadi duduk diam di samping Kazuha tiba-tiba ikut menimpali ucapan anak baru itu.

“Oh.. Maaf? Soalnya dari kemarin aku denger kamu manggil Kazuha Juju jadi aku pikir nama panggilannya memang Juju,” jawab Heizou.

“Iya, tapi yang manggil Juju cuma gue doang, yang lain tetep manggil Kazuha.”

“Ra, jangan gitu ihh dia kan gatau,” Kazuha setengah berbisik pada sahabatnya, tapi tentu saja Heizou tetap bisa mendengarnya.

“Oh okay.. Maaf ya Kazuha aku ga tau.”

“Eh i-iya gapapa Heizou santai aja yah hehehe.”

get to know the characters!

kazuha – kelas 11 mipa 6 – temen scara dari tk – anaknya beidou – gak bisa naik motor – naksir scara tapi gak berani bilang

scaramouche – satu kelas sama kazuha – duduknya juga sebelahan sama kazuha – kalo manggil kazuha “juju” (panggilan khusus dari kecil) – anaknya ei – tukang ojeknya kazuha – anaknya sok cuek padahal aslinya perhatian

albedo – kelas 11 mipa 6 – anak ambis nan berprestasi kebanggaan sekolah – temen deket scara – jomblo dari lahir

xiao – kelas 11 ips 2 – nakal tapi pintar – temen deket kazuha – galak (padahal aslinya enggak)

chara lain menyusul seiring berjalannya cerita.

“Ada apaan dah? Biasa juga lu langsung nyelonong ke kamar gue,” ucap Scaramouche setelah ia menemui Kazuha di teras rumah. Kedua lengannya ia silangkan di depan dadanya.

“Gue boleh minjem motor lu?”

“Buset. Mau ke mana lu Ju malem-malem begini?”

“Ngeprint makalah. Printer gue tiba-tiba rusak.”

“Lah kan bisa pakeㅡ”

“Kan printer lo juga rusak,” Kazuha memotong ucapan Scara sebelum ia menyelesaikannya.

“Lah iya ya. Malah duluan punya gue rusaknya dibanding punya lo.”

“Pikun sih lo.”

“Yaudah yok,” ajak Scaramouche.

“Apaan ayok?”

“Gue anterin.”

“Biar apa?”

“Biar kaga jatoh. Lo kan baru belajar naik motor 2 minggu, kaga usah belagu.”

Kazuha terdiam sejenak. Ulah sahabatnya ini memang sulit ditebak sejak dahulu. Belum sempat menjawab, Scaramouche sudah lebih dulu masuk untuk mengambil helm dan kunci motor.

“Ngapain ke sini? Yanfei lagi pergi sama temennya,” ucap Xiao setelah ia membukakan pintu.

“Udah tau. Gue ke sini mau nyariin lo,” jawab si surai pirang.

“Dih. Mau ngapain?”

“Lo nggak mau nyuruh gue masuk terus duduk dulu gitu?”

“Oh. Sorry sorry nggak sadar. Masuk dulu sini duduk.”

“Segitu nggak fokusnya lo gara-gara ngobrol sama gue doang?”

“Apa si tolol.”

Xiao akhirnya mempersilakan tamunya untuk duduk di ruang tamu.

“Udah duduk kan? Sekarang jawab pertanyaan gue. Mau ngapain?”

“Mau ngajakin nonton.”

“Hah???”

“Kenapa?”

“Gila lo?”

“Lo yang gila. Gue cuma ngajak nonton doang, kenapa sih lebay amat.”

“Lah bukannya lo janjian nonton sama Yanfei?”

“Lo liat nggak tadi adek lo pergi sama siapa?”

“Sama Hu Tao.”

“Yaudah.”

“Apanya yaudah?”

“Ya gue gagal nonton sama adek lo, anjing.”

“Terus, apa hubungannya sama gue?”

“Gue mau lo jadi pengganti Yanfei.”

“Jadi gebetan lo gitu? Ogah amat.”

“Tolol. Maksud gue, dari pada tiket satunya mubadzir.”

“Kalo gue nolak, gimana?”

“Lo yang nyesel.”

“Dih?”

“Yanfei bilang lo ngajak nonton Kazuha, tapi Kazuha udah sama pacarnya.”

“Anjing cepu banget punya adek.”

“Udah sana cepetan mandi.”

“Gue belom sarapan tapi.”

“Gampang ntar mampir sarapan dulu. Gue juga udah laper lagi.”

“Oke.”

“Gak usah cakep-cakep lo dandannya.”

“Dih? Takut kalah saing lo?”

“Iya.”

“Tolol,” Xiao berucap sambil tersenyum kecil, “gue bakal pake outfit yang sekeran mungkin biar lo kalah cakep dari gue.”

“Terserah. Cepetan mandi. Filmnya mulainya jam 11.15”

“Masih ada 1 jam lebih anjing, ini baru jam 10.”

“Kan mau mampir sarapan dulu. Lupa lo?”

“Iya iya ini gue mandi cepetan. Sabar, bawel.”

“Lo bawel.”

“Lo bawel banget sampe adek gue gak naksir-naksir sama lo.”

“Bacot. Mandi sekarang atau gue lempar kunci mobil ke arah lo?”

“Lempar aja sini biar gue tangkep.”

Albedo mengepalkan tangannya ke arah Xiao, merasa kesal dengan respon dari abang gebetannya ini.

“Iya iya ini gue mandi.”

A chiscara songfic based on Winter Falls by Stray Kids.

Tags: post-break up, angst, past relationship, flashback, modern setting.


“Gue suka sama lo. Ayo pacaran.”

Di tengah terangnya cahaya matahari yang menyinari musim salju kala itu, lelaki dengan surai jingga menatap lurus ke arah sosok yang lebih kecil di hadapannya.

“Maksudnya apa?” sosok yang lebih kecil itu bertanya, nada bicaranya terdengar sedikit judes.

“Gue suka sama lo, masih kurang paham?”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa lo suka sama gue, kak Ajax?”

Lelaki jangkung yang ternyata bernama Ajax itu terdiam sejenak, sorot matanya mulai memperlihatnya tanda bahwa ia sedang berpikir keras.

“Entah lah, gue juga gatau kenapa. Yang jelas, lo menarik di mata gue, Scaramouche.”

Lelaki yang lebih kecil itu bernama Scaramouche, ia adalah mahasiswa pindahan sekaligus room mate Ajax di asrama selama 6 bulan ke belakang.

Keseharian Ajax setiap hari adalah bersama Scaramouche, atau yang lebih akrab dipanggil Scara. Di pagi hari, mereka akan berjalan ke kampus secara bersamaan dan berpisah di lobi guna menuju gedung masing-masing. Ajax adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5, sedang Scara adalah mahasiswa Teknik Elektro semester 3.

“Kak,” lelaki kecil itu memanggil.

“Iya?”

“Lo serius?”

“Apanya?”

“Suka sama gue?”

Ajax mengangguk. Keduanya kini tengah duduk di bangku taman sembari memegang satu cup coklat panas di tangan masing-masing.

“Serius,” jawab yang lebih tinggi.

“Sejak kapan?”

“Nggak tau, lupa. Pokoknya tau-tau gue udah sayang aja sama lo. Yah, walaupun lo galak banget sih, kadang,” jawabnya disertai kekehan kecil.

Scara mempererat genggaman pada cup coklat hangatnya. Berkali-kali ia terlihat mengatur nafasnya di tengah dinginnya salju kali ini.

“Cil, kok diem aja?”

Ajax acap kali memanggil Scara dengan sebutan Kecil, yang terkadang berakhir dengan tatapan sinis dari Scaramouche. Tidak, Scara tidak benci sapaan itu, memang pembawaan Scara saja yang selalu sensi dengan tingkah laku Ajax.

“Ra,” Ajax kembali memanggilnya.

“Kak.”

“Ya?”

“Kayaknya gue juga,”

“Juga apa?”

“Suka sama lo.”


Sudah 3 tahun sejak kelulusan Ajax dari universitas, dan sudah 3 tahun pula ia merasa kesepian. Snezhnaya masih saja dingin seperti biasa, salju yang turun sudah seperti makanan sehari-hari warga setempat.

Sepulang bekerja dari kantor, Ajax memilih untuk bersinggah di salah satu cafe tak jauh dari apartemennya. Ia memarkir mobilnya, melepas seatbeltnya, lalu berjalan santai menuju cafe.

“Satu coklat panas dan satu Russian Honey Cake ya. Terima kasih,” pesannya.

Ajax memilih duduk di dekat jendela. Salju hari ini nampaknya turun lebih lebat dari biasanya. Ia merapikan lilitan syal di lehernya dan beberapa kali menggosok tangannya. Meski sudah puluhan tahun tinggal di Snezhnaya, Ajax acap kali masih merasa kedinginan.

Pesanannya sudah sampai, coklat panas dan kue madu khas Russia, atau yang biasa disebut Medovik. Ajax mulai menyeruput minumamnya. Hangat dari minuman tersebut ternyata dapat menghalau sedikit rasa dingin di tubuhnya.


“Selamat satu tahun, kecil,” lelaki surai oranye tersebut menatap ke arah sang kekasih, binar matanya sungguh memperlihatkan kebahagiaan.

“Selamat satu tahun juga, kak Ajax.”

“Mana sayangnya?”

“Kak Ajax sayang,” jawabnya gusar.

Usai bertukar hadiah sebagai peringatan hari jadi satu tahunnya, Ajax lalu memeluk si Kecil dengan hangat.

“Aku buka hadiahnya sekarang ya,” ucap Ajax yang lalu dijawab dengan anggukan.

“Wahh, syal? Kamu ngerajut sendiri?” sorot mata Ajax seketika berbinar setelah ia membuka kotak berisi syal berwarna merah marun tersebut.

“Iya, hehe.”

“Belajar merajut dari mana?”

“Dari youtube, kak.”

Ajax spontan meraih kedua tangan si Kecil, tampak beberapa ujung jari yang terlapisi plester.

“Kamu belajar ngerajut sampe jari kamu luka-luka?” tanyanya khawatir.

“Cuma luka kecil, nggak sakit kok,” jawabnya santai.

Scara lalu meraih syal merah itu dari tangan sang kekasih, dilingkarkannya syal tersebut pada leher sang kekasih.

“Nah, udah cakep,” ucap Scara.

Sorot mata Ajax menatap lekat ke arah sang kekasih. Binar matanya tidak dapat disembunyikan lagi. Laki-laki ini, benar-benar mencintai sosok di hadapannya.

“Makasih banyak, sayang,” ucapnya.


Cafe tempat Ajax berdiam diri tiba-tiba saja memutar lagu melalui speaker, sepertinya untuk memecah keheningan sore ini.

Matanya kembali menatap ke jendela. Langit sudah mulai petang dan salju turun lebih lebat dari sore tadi. Ajax bahkan sudah memesan 2 cangkir coklat panas untuk menghangatkan tubuhnya.

Ajax lalu mengeluarkan ponsel dari saku padding jacketnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tapi dirinya masih enggan untuk pulang ke apartemennya.


“Kak. Mau sampe kapan kayak gini?” lelaki kecil itu berbicara pada Ajax yang tengah sibuk merebahkan badannya di atas ranjang.

“Apa lagi sih, Ra? Aku capek.”

“Aku tau kakak capek. Tapi bisa nggak, seenggaknya bersihin barang-barang kamu? Kamu nggak tinggal sendirian, kak.”

“Ra, aku capek seharian bimbingan sama dosen dan ngurus skripsian. Bisa nggak sih stop marah-marah ke aku? Tenang aja, pasti bakal aku beresin, tapi nggak sekarang. Aku lagi capek.”

“Cih. Ngerepotin,” si kecil itu mendecih kesal.

“Bilang apa barusan?”

“Nggak.”

“Aku nggak budek, Scara.”

“Aku bilang kakak ngerepotin. Puas?”

Ajax bangun dari posisi rebahannya.

“Ngerepotin? Aku nggak pernah minta kamu buat beresin kamarku. Kamu yang ngerepotin diri kamu sendiri.”

“Ya itu karena kakak nggak pernah bisa beresin kamar. Kakak tau aku paling benci liat tempat kotor.”

“Seriously, Scara? Kamu marah karena hal kecil kayak gitu? Di saat kayak gini? Di saat aku bilang aku lagi capek banget karena skripsian dan semuanya.”

“Ngerjain skripsi bukan berarti kakak melalaikan tanggung jawab ya. Aku juga capek. Udah bener dulu kita nggak usah pindah ke apartemen. Sekarang apa? Kita nyewa apartemen buat berdua, tapi selalu aku yang ngurusin semuanya.”

“Kamu pikir aku nggak capek? Aku stress ngurusin skripsian dan kerjaan part time. Bisa nggak sih, sekali aja, kamu ada buat aku di saat aku lagi capek? Bukannya malah marah-marah begini.”

“Kak. Kamu pikir selama ini aku di mana, hah? Aku selalu tanya kakak ngapain aja hari ini, ada masalah apa nggak, mau cerita sesuatu nggak, tapi apa? Jawaban kakak selalu aku capek Ra, aku tidur dulu ya. Dan kakak bilang aku nggak pernah ada buat kamu? You're so funny, Kak.

“Cukup, Ra. Terserah kamu. Aku capek.”

Lelaki tinggi itu beranjak dari kasurnya. Ia meraih jaket yang tergantung di dinding dengan asal.

“Aku nggak tidur di apart malam ini,” ucapnya sembari menutup pintu unit apartemen mereka.


Ajax membuka galeri foto di ponselnya. Sudah 3 tahun berlalu, dan sudah 3 tahun itu pula Ajax masih menyimpan foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Kalau saja, kalau saja malam itu Ajax tidak tidur di tempat sahabatnya, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ia masih mengingat semuanya dengan jelas. He remember it all too well.


Ponsel Ajax berdering saat ia baru saja tiba di apartemen sahabatnya, Kaeya.

Scara: Aku mau putus.

Ajax: Kamu apa-apaan sih?

Scara: Kamu yang apa-apaan kak. Bukannya selesain masalah, malah lari dari tanggung jawab dan minggat entah ke mana.

Ajax: Aku nginep di tempat Kaeya.

Scara: Terserah. Aku nggak peduli. Besok pagi aku pergi.

Ajax: Ke mana?

Scara: Balik ke asrama. We're over now. Aku nggak mau lagi tinggal sama kakak. Sekarang kamu bebas. Nggak akan ada yang marahin kamu lagi kalo apartemenmu berantakan kak.

Ajax: Fine. Terserah. Lakuin aja apa yang kamu mau.


Ajax melihat satu foto dirinya dengan mantan kekasihnya 4 tahun silam. Ia mengenakan syal berwarna merah muda di foto itu yang merupakan hadiah hari jadi mereka yang pertama. Hari ini pun, Ajax mengenakannya. Meski sudah sedikit usang, Ajax masih menyimpannya baik-baik.

Hari ini adalah tepat 3 tahun sejak hubungan mereka berakhir, dan selama 3 tahun ini pula, Ajax tak bisa berhenti menyalahkan dirinya setiap hari.

Terlalu banyak kata “seandainya” dan “seharusnya” dalam kepala Ajax. Namun kini yang tersisa hanyalah penyesalan. Ajax bangkit dari kursinya. Sudah hampir 3 jam ia duduk berdiam di cafe tersebut untuk sekadar menyaksikan salju turun sembari mengingat kenangannya dengan sang mantan kekasih.

Ajax berjalan santai, bersiap untuk pulang, saat tiba-tiba sorot matanya dikagetkan oleh sosok yang sama sekali tidak ia duga.

“Scara.....?”

Lelaki kecil itu, berjalan sendiri memasuki cafe tersebut.

“Kak Ajax?” jawabnya.

Jantung Ajax berdegub sangat kencang. Sangat kencang hingga rasanya mau copot.

“Ah.. A-apa kabar?”

“Kabar baik. Oh, maaf kak, aku buru-buru mau beli minum untuk pacarku. Aku ke kasir duluan ya kak. Sampai ketemu lagi.”

Ajax hanya bisa terdiam. Buru-buru ia berlari menuju mobilnya. Ia terdiam, merasakan dadanya sakit dan bergumuruh.

Seandainya saja, Ajax tidak tidur di rumah sahabatnya kala itu, semua pasti baik-baik saja. Seharusnya, Ajax menuruti permintaan kekasihnya untuk sekadar membersihkan kamarnya.

Ajax menyesal. Ia menyesal karena ia sadar bahwa di musim-musim dingin yang selanjutnya, salju selalu terasa begitu dingin hingga menusuk tulangnya, tepat setelah ia kehilangan si kecil yang selalu menjadi sumber kehangatannya.

I search for you in my memory. We were holding hands while walking back then. It was a warm winter. Everything was beautiful back then.

© cereniteas, 2021.

test

“Xiao, bangun. Kita udah sampe di rumahku”

Xiao terbangun setengah sadar.

“Gendong”

Hah. Albedo sedikit terkejut dengan ucapan Xiao. Ia tidak menyangka Xiao akan seclingy ini saat mabuk.

“Nggak bisa. Kamu berat, nggak kayak Klee sama Qiqi. Udah yuk jalan aku bantuin”

Setelah masuk ke dalam unit apartment Albedo, Xiao berjalan lunglai menuju sebuah pintu kaca di salah satu sudut ruangan.

“Kenapa berdiri di depan pintu?”

“Keluar”

“Hah?”

“Mau keluar”

“Di luar dingin, ini udah jam 12 lebih”

Pintu kaca besar itu tersambung langsung dengan balkon. Unit apartemen Albedo terletak di lantai 5 dan ia sering kali bersantai di balkon sembari memandangi bintang-bintang yang kemerlip.

“Mau ke luaarrr Albedoooo”

Albedo kembali mengambil nafas panjang. “Iya iya, aku buka pintunya”

Dan di sinilah, dua lelaki tersebut berdiri bersampingan di bawah terangnya cahaya bulan dan bintang. Entah kenapa, udara di jam setengah 1 pagi hari ini tidak terasa begitu dingin.

Xiao mulai merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan satu bungkus rokok dan pemantik. Segera ia menyalakan satu batang rokok dan menyesapnya.

“Xiao! Kamu ngerokok?!”

Albedo yang sedari tadi hanya menatap langit baru tersadar saat ia mulai mencium asap rokok.

Xiao hanya mengangguk.

“Xiao kamu masih belum sober sepenuhnya, jangan ngerokok dulu”

Xiao hanya menggeleng.

“Xiao.. Aku mohon, matiin ya rokoknya”

“Boleh aja tapi nanti gantiin pake bibir kamu”

“Hah? Tuh kan kamu mabuk banget ngomongnya ngelantur”

Xiao mendadak menoleh tepat ke arah Albedo. Keduanya saling berhadapan dengan batang rokok yang masih menempel di bibir Xiao.

Albedo spontan menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya, tak mau mencium asap rokok yang disebabkan lelaki di hadapannya.

“Matiiin”

“Apanya?”

“Rokokku. Kamu yang matiin”

Albedo sama sekali tidak tahu harus menghadapi Xiao bagaimana. Ia akhirnya memilih untuk mengambil batang rokok yang masih menempel pada bibir Xiao.

“Bibir aku sekarang kosong” Ucap Xiao setelah Albedo berhasil mematikan rokoknya.

“Maksud kamu?”

Di jarak sedekat ini, bohong kalau Albedo berkata jantungnya baik-baik saja. Albedo bisa menatap jelas paras Xiao yang masih setengah mabuk. Sorot matanya yang sayu, rambutnya yang sedikit acak-acakan, dan bibirnya. Albedo dapat menatap jelas bibir Xiao dari jarak sedekat ini.

Nafas Albedo tertahan sepersekian detik saat ia merasa ada sesuatu yang menabrak bibirnya dengan cepat. Xiao. Xiao menciumnya tepat di bibir saat Albedo masih menatap paras Xiao. Mata Albedo membesar seketika.

Merasa tidak ada respon apapun dari Albedo, Xiao yang mabuk mulai memainkan giginya. Ia menggigit kecil bibir bawah Albedo, memberikan sentakan pada Albedo hingga ia melepas paksa ciumannya.

“Xiao?! Kamu gila?!” Nafas Albedo terengah-engah pasca kegiatan menyapa bibir selama kurang lebih 15 detik itu.

Xiao hanya diam. Ia menatap Albedo dengan pandangan yang belum pernah Albedo lihat sebelumnya. Seolah memberikan sinyal bahwa Albedo tidak mungkin bisa lari dari situasi saat ini.

“Xiao.. Nggak bisa begini. Kamu masih mabuk. Balik ke kamar ya, aku ambilin air putih terus kamu tidur”

Xiao hanya menggeleng. Ia kembali memandang bibir ranum Albedo untuk beberapa saat. Membuat si empunya bibir merinding.

“May I kiss you again?” Xiao berucap, membuat kekhawatiran di dada Albedo berubah menjadi sebuah perasaan tak menentu. Tentu saja, Albedo tidak akan menolak jika Xiao mengajaknya berciuman, tapi tidak di saat Xiao sedang mabuk berat. Ia tidak ingin menjadi laki-laki brengsek yang mengambil kesempatan dari orang yang sedang mabuk.

Merasa diabaikan, Xiao kembali menghapus jarak diantara keduanya, namun Albedo lebih dulu menepisnya.

“No. You'll regret this, Xiao”

“Just once. I wanna kiss you so bad, Al”

Kalimat tersebut seolah mencairkan dinding pertahanan dalam hati Albedo. Persetan. Ia sudah tidak peduli lagi. Dirinya juga ingin menikmati bibir lelaki di hadapannya ini.

“Alright, you're gonna forget this once you sober anyway”

“No. I will never forget this moment, Albedo”

Malam itu, di bawah terangnya sinar bintang, semesta seolah mengizinkan keduanya untuk saling bersapa.

Xiao memiringkan kepalanya, mengikis jarak diantara keduanya sampai nafas saling terhembus di antara wajah masing-masing. Mata keduanya terpejam, lalu kembali menjamah bibir lelaki di hadapannya. Kedua tangan dilingkarkan pada leher, yang dijamah membalas pagutannya dengan lihai.

Sang pemilik surai hujau tak mau kalah, ia kembali memainkan giginya dan menggigit pelan bibir bawah Albedo, membuat lelaki di hadapannya tersentak dan membuka mulutnya. Kesempatannya terbuka lebar, ia segera memainkan lidahnya, melumat acak mengikuti instingnya. Menyesap setiap inchi sudut di bibirnya.

Lengkuhan kecil akhirnya lolos dari bibir si pirang, membuat yang di hadapannya tersenyum kecil. Keduanya kembali melanjutkan aktivitasnya. Tidak ada yang mau mengalah, Albedo juga menyesapkan lidahnya. Benda tanpa tulang itu saling melilit satu sama lain.

Meraup bibir Albedo lebih dalam, Xiao kembali menghabisi bibir Albedo, membuat si pemilik mengeluh dan berakhir dengan rambut belakangnya yang diremas kuat oleh Albedo.

Pagutan mereka terputus, saliva sudah rampung mengotori dagu dua insan yang bercumbu dengan sengit ini. Berantakan, keduanya benar-benar berantakan.

Kecupan lembut kembali mendarat di bibir Albedo sebagai penutup dari acara bercumbu malam itu.

“I love you, Albedo”

Xiao baru saja meneguk gelas ketiganya saat ia tiba-tiba merasa sekelilingnya mulai berputar.

“Xiao, kamu gapapa?”

“Gaaapapa hehee”

Melihat jawaban Xiao yang sedikit aneh, Albedo segera mengambil gelas yang masih berada di tangan Xiao.

“Kamu udah mulai tipsy, udah ya minum ya”

“Nggaakk. Aku masih soberrr nii liat mata aku”

Albedo mengambil nafas panjang.

“Xiao, berhenti minumnya”

Xiao tidak menggubris, ia justru kembali menuang minuman ke gelasnya dan dan meneguknya.

“Xiao! Kenapa malah minum lagi?!”

“Enakk... Aku udah lamaaa bangeyt gak minuuum” Jawabnya sudah mulai ngelantur.

Albedo kembali menyingkirkan gelas yang masih Xiao genggam.

“Bangun. Kita pulang sekarang”

“Gak maauuu. Masih mau di sinii sama Albedo” Xiao menjawab sembari menjatuhkan kepalanya pada bahu Albedo.

“Iya aku di sini. Tapi kita pulang dulu ya”

Xiao hanya terdiam. Albedo akhirnya berdiri dan membawa tangan Xiao pada bahu Albedo. Ia berjalan sambil menyangga Xiao.

“Sok-sokan nanya alcohol toleranceku tinggi apa ngga, ternyata malah kamu duluan yang mabuk”

Sesampainya di mobil, Albedo segera mendudukkan Xiao di kursi samping pengemudi. Tak lupa ia juga memasangkan seat belt pada Xiao.

Setelah meraih kunci mobil di saku baju Xiao, Albedo mulai menjalankan mobilnya.

“Kita mau ke manaaa?” Xiao bertanya.

“Ke tempatku” Jawabnya singkat.

X: “Halo.. Pak Albedo”

A: “Iya halo Pak Xiao. Kenapa ketawa”

X: “Gapapa haha. Lagi ngapain?”

A: “Gak lagi ngapa-ngapain sih”

X: “Lagi nemenin Klee tidur?”

A: “Enggak. Aku lagi di kamar sendiri”

X: “Oh.. Sama dong”

A: “Xiao kenapa ngajakin telfonan?”

X: “Udah dibilang aku ga bisa tidur”

A: “Kalo ga bisa tidur tuh merem, baca doa, ngitung domba, bukan ngajak telfonan”

X: “Ya kenapa sih lagian kamu juga mau-mau aja tuh aku ajak telfonan”

A: “Kasian soalnya”

X: “Jahat...”

A: “Hahaha. Yaudah mau ngobrolin apa?”

X: “Albedo”

A: “Ya?”

X: “Pernah nggak, ngerasa capek besarin anak sendirian?”

A: “Kenapa nanya gitu? Kamu mau cari mama baru buat Qiqi?”

X: “Gak gitu anjir”

A: “Aku baru pertama kali denger kamu ngomong kasar haha”

X: “Ya kamu ngomongnya ngawur banget”

A: “Terus kenapa?”

X: “Ya tanya aja sih. Karena kan statusnya kita sama, siapa tau kamu pernah ngerasa gitu juga. Aku udah 3 tahun besarin Qiqi sendiri, tapi kadang rasanya masih kesusahan terus”

A: “Aku juga gitu, kok. Kerasa banget bedanya setelah Mona pergi dari rumah dan aku tinggal sendirian doang sama Klee”

X: “Al”

A: “Hm?”

X: “Boleh aku nanya sesuatu?”

A: “Boleh. Nanya apa?”

X: “Tapi agak sensitif sih. Kalo kamu gamau jawab gapapa”

A: “Tanya aja. Nanti aku yang putusin bakal jawab atau ngga pertanyaan dari kamu”

X: “Okay.. Hmm.. Kalo boleh tau, alasan kamu cerai sama mantan istri kamu, apa?”

A: “Kirain nanya apaan haha”

X: “Kok malah ketawa sih?”

A: “Ya soalnya kamu kayak mau nanya pertanyaan yang serius banget”

X: “Ya emang serius kan..”

A: “Iya, cuma aku ga expect aja kamu bakal nanya hal itu”

X: “Maaf.. Ga usah dijawab gapapa”

A: “Ga ada yang bilang aku ga mau jawab loh”

X: “Err.. Terus, kenapa?”

A: “Karena udah nggak cocok. Di rumah tangga aku sama Mona, udah nggak ada perasaan saling mencintai lagi”

X: “Ah.. Maaf.. Aku nggak seharusnya nanyain itu”

A: “Nggak papa kok. Bukan sesuatu yang harus dirahasiain juga. Aku sama Mona sama-sama sibuk. Waktu awal-awal kita nikah, jadwalku di rumah sakit masih padat banget, aku sering pulang ke rumah larut malam dan Mona selalu udah tidur sama Klee”

X: “Lanjutin dulu aja. Aku dengerin”

A: “Puncaknya di tahun keempat pernikahan kita. Usia Klee baru 2 tahun lebih waktu itu. Tapi hampir tiap hari aku sama Mona ribut. Ada aja yang dipermasalahin. Mulai dari aku yang jarang ada waktu buat keluarga, nggak pernah bantuin kerjaan Mona, nggak makan sarapan buatan Mona karena udah kesiangan, pokoknya tiap hari tuh selalu ada ribut. Sampe akhirnya suatu hari aku ajak ngobrol Mona baik-baik. Mona juga sadar kalo hubungan kita udah nggak kayak dulu lagi. Baik aku sama Mona sama-sama nggak mau bikin masa kecil Klee dipenuhi suara berantem terus tiap hari. Akhirnya setelah beberapa kali ngobrol, kita sepakat buat pisah”

X: “Albedo.. Maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu inget lagi sama masa lalu”

A: “Gapapa santai aja. Terus ya yaudah.. Kita mulai urus surat-surat buat cerai. Klee masih terlalu kecil jadi kita nggak kasih tau dia. Di hari Mona akhirnya pergi dari rumah, Mona akhirnya cerita sama Klee, walaupun Klee juga kayanya belum ngerti”

X: “Kamu hebat banget...”

A: “Thank you, Xiao. Kamu bahkan jauh lebih kuat dari aku. Makasih juga karena udah mau dengerin ceritaku”

X: “Kan aku yang tanya, udah pasti aku dengerin”

A: “Iya juga ya haha. Sekarang gimana?”

Xiao: “Apanya?”

A: “Abis denger ceritaku panjang lebar, udah ngantuk? Kan katanya suaraku bikin ngantuk”

X: “Becanda doang tadi mah yailah. Aslinya mah karena emang pengen telfonan aja”

A: “Hahaha”

X: “Tapi emang udah lumayan ngantuk sih sekarang”

A: “Yaudah tidur aja”

X: “Kamu juga tidur ya abis ini”

A: “Iyaa”

X: “Okay. Selamat beristirahat, Pak Albedo. Thank you udah nemenin saya lewat telfon malam ini”

A: “Haha iya sama-sama. Selamat beristirahat juga, Pak Xiao. Kalo gitu saya matiin telfonnya ya”

X: “Iya. Good night, Albedo”