that night
ospek fakultas berakhir dengan lancar. para mahasiswa baru mendengarkan materi dari para pembicara dengan baik. mereka lantas diserahkan ke jurusan untuk mendapat bimbingan lebih lanjut tentang jurusannya.
malam ini adalah malam terakhir masa pengenalan kampus. seperti biasa, para mahasiswa baru berkumpul membuat lingkaran dengan beberapa senior mereka. mereka bermain beberapa games, dan tidak lupa acara minum-minum.
felix duduk di samping jisung. mereka sudah berkumpul selama kurang lebih satu jam, dan felix sudah hampir mencapai batas toleransi alkoholnya. felix sudah minum 2 gelas, dan kepalanya hampir berkunang-kunang, namun felix tetap berusaha menahannya.
“felix! haha ayo minum lagi!” seru salah seorang senior.
felix terlihat tidak nyaman. jisung beberapa kali menenangkannya.
“lix, udah ya? apa perlu aku bilang ke sunbaenim?”
felix hanya menjawab dengan gelengan.
senior tersebut menuangkan alkohol ke dalam gelas dan berniat memberikannya kepada felix, namun saat felix hampir meraihnya, sebuah tangan terlebih dahulu meraihnya.
seo changbin. pemuda itu segera mengambil gelas tersebut dan menengguknya. changbin duduk berjarak 2 orang di samping felix.
bahkan hingga putaran permainan selanjutnya, felix kembali mendapat giliran untuk minum. entahlah, apakah hari ini felix sedang sial, atau mungkin senior tersebut sengaja membuat felix minum, dan, tentu saja, changbin lagi-lagi mengambil giliran minum felix. felix hanya melihatnya sambil kebingungan.
**
“hyung, terima kasih” ucap felix.
acara sudah selesai. felix menghampiri changbin yang sedang bersiap berjalan menggunakan alat bantu jalannya.
changbin menoleh menatap ke arah felix.
“lain kali jangan polos-polos banget jadi orang” jawab changbin dengan nada dingin.
“maksud hyung?”
“kalo udah ga kuat tuh bilang aja kali. ga usah sok gapapa. yang tau batasnya kan lo sendiri” jawab changbin.
felix menunduk.
“lo udah mau pulang?” tanya changbin.
“i-iya”
“yaudah, temenin gue dulu nunggu jemputan” pinta jawab.
“h-hah?” tanya felix kebingungan.
“gue ga bisa nyetir, jadi terpaksa dijemput sopir. gue minta lo nemenin gue nungguin jemputan gue dateng”
“ah b-baik hyung”
felix segera menyusul changbin di sampingnya dan berjalan menuju parkiran bersama.
“lo pulang naik apa?” tanya changbin.
“taxi” jawab felix cepat.
“jam segini?”
“iya”
“lo bukan asli sini kan?”
“d-dari mana hyung tau?”
“keliatan. logat lo juga keliatan bukan orang sini”
felix hanya menunduk.
“apa ini pertama kalinya lo ke korea?”
“dulu banget, waktu kecil, aku pernah sekali kesini. tapi setelahnya, ga pernah”
“lo asal mana?”
“australia”
“oh”
keduanya sampai di parkiran. felix dan changbin duduk di bangku kecil, berdampingan.
“lo pulang bareng gue aja” ajak changbin tiba-tiba.
“hah?”
“hah-hah mulu lo kaya tukang keong”
“t-tapi maksud hyung apa?”
“ya gue ngajak lo pulang bareng. udah hampir jam 12 malem, apa lo nggak takut naik taxi sendirian?”
felix hanya terdiam. ucapan changbin masuk akal juga. apalagi, felix baru satu minggu di korea.
tak lama, jemputan changbin datang dan changbin segera mengajak felix. felix yang tidak punya pilihan lain akhirnya mengikutinya dan duduk di bangku penumpang sendiri.
“rumah lo jauh ga dari kampus?” tanya changbin saat keduanya sudah jalan.
“nggak kok. 20 menit sampai”
malam itu, felix pulang ke rumahnya, diantar seniornya yang bernama seo changbin, oh, atau mungkin lebih tepatnya, diantar oleh sopir milik seo changbin.
“sekali lagi terima kasih banyak hyung” felix mengucapkan terima kasih sembari membungkukkan badannya.
“sama-sama. gue cabut dulu. dah, felix”
“hati-hati di jalan hyung”
changbinpun segera menutup jendela mobilnya dan bergegas menuju rumahnya.