cereniteas

Xiao baru saja memarkir mobilnya di basement apartment Albedo. Setelah diberitahu nomor unit apartment Albedo, Xiao segera berjalan pelan. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa deg-degan. Jangan lupa, ini adalah kali pertama Xiao menginjakkan kaki di rumah Albedo.

Tingtong.” Suara bel berbunyi, menandakan Xiao sudah sampai di depan pintu.

“Masuk dulu, Xiao” Albedo mempersilakan lelaki di hadapannya untuk masuk dengan ramah.

“Xiao? Kok diem aja?”

“Eh- ah, maaf. Iya, makasih”

Iya, Xiao baru saja terpana dengan lelaki di hadapannya. Ini juga kali pertama Xiao melihat Albedo dengan pakaian santai rumahan. Albedo mengenakan celana panjang santai berwarna beige dengan atasan kaus oblong berwarna hitam. Di rumah doang aja tetep cakep.

“Qiqi, ayah dateng” Xiao berusaha memanggil anaknya, tapi nampaknya gadis itu tetap asik dengan mainannya bersama Klee dan tidak memedulikan kehadiran ayahnya.

“Duduk dulu aja, Xiao. Biar aku yang ngomong sama Qiqi sama Klee”

Albedo mengangguk. Ia akhirnya duduk di sofa dan memerhatikan sekeliling. Rapi. Apartemen Albedo benar-benar rapi, yah, bukan berarti apartemen Xiao super berantakan juga, sih, hanya saja, untuk ukuran rumah yang hanya dihuni satu bapak dan satu anak, keadaannya terlihat begitu rapi.

“Qiqi, Klee, udahan dulu ya, mainnya. Ayah Qiqi datang, tuh” Albedo memamggil gadis-gadis yang tengah asik bermain boneka.

“Ayah dateng???” Ujar Qiqi.

“Iya. Tadi dia manggil Qiqi, tapi Qiqi nggak denger”

Mendengar hal itu, Qiqi segara beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ayahnya.

“Ayah!”

Xiao balas anaknya dengan tersenyum.

“Maaf tadi Qiqi gak dengar ayah datang”

“Iya, gakpapa kok. Udah puas main sama Kleenya?”

“Beluum!” Suara gadis lain tiba-tiba menimpali.

“Eh?”

“Klee belum puas main sama Qiqi” Tiba-tiba Klee ikut berbicara.

“Klee, jangan gitu ah. Kan udah main dari tadi sama Qiqi” Albedo menimpali.

“Ayah Qiqi, boleh gak Qiqi pulangnya nanti malem aja?” Tanya Klee.

Xiao terdiam sejenak. Merasa bingung harus menjawab bagaimana.

“Ayah...” Xiao dapat melihat anaknya yang mulai memegangi celananya, pertanda bahwa ia mau keinginannya agar dituruti.

“Kan Qiqi udah main dari siang. Kasian juga papanya Klee nanti repot kalo Qiqi main lama-lama”

“Gakpapa! Kalo Klee gakpapa, papa juga pasti gakpapa, iya kan pa?”

Albedo hanya membalas dengan senyuman. “Iya, nggak masalah kok. Biar sekalian aku masakin makan malam juga”


Dan di sinilah, Xiao berakhir membantu Albedo di dapur, sedang anak-anaknya menonton serial kartun yang Albedo pilihkan untuk mereka. Kalo kalian bertanya-tanya kenapa Xiao akhirnya setuju, tentu saja karena Qiqi dan Klee yang memaksa.

Xiao masih duduk di meja makan saat Albedo mulai menyiapkan diri untuk memasak. Ia akhirnya memilih untuk berdiri, mengikuti Albedo yang sedang mengambil apron yang tergantung di tembok dan segera memakainya.

“Sini aku taliin” Xiao menawarkan diri saat ia melihat Albedo yang tengah melilitkan tali apronnya. Tidak, Albedo tidak kesusahan sama sekali, memang Xiao saja yang pengen caper sama Albedo.

“Nggak usah aku bisa sendiㅡ”

Untuk kali ini, kecepatan gerak Xiao melampaui kecepatan Albedo dalam menyelesaikan kalimatnya. Ia berdiri tegak di belakang Albedo, untuk beberapa saat memerhatikan lelaki di hadapannya.

“U-udah, belum?” Tanya Albedo sedikit gugup.

“Oh. Bentar”

Xiao mulai mengikat tali apron yang dikenakan Albedo. Kalau boleh jujur, dari jarak sedekat ini, Xiao bisa mencium jelas aroma yang menyeruak dari tubuh Albedo.

“Udah”

“Makasih, Xiao”

“Kamu pake parfum?”

“Hah? Enggak. Ngapain di rumah doang pake parfum”

“Badan kamu bau vanilla. Wangi banget”

Ada sedikit perasaan gugup kala Albedo mendengar kalimat itu keluar dari bibir Xiao.

“O-oh.. I'll take that as a compliment?”

Xiao tertawa kecil mendengar jawaban Albedo.

“Boleh-boleh aja. Udah yuk mulai masaknya. Mau masak apa?”

“Spaghetti mau?”

“Mau. Terserah kamu masak apa aja aku makan”

Albedo tersenyum kecil.

“Yaudah kalo gitu tolong ambilin sayuran di kulkas ya. Aku mau panasin airnya dulu”

“Siap, kapten!”

Albedo yang masih mengisi pancinya dengan air tiba-tiba menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap lelaki yang tengah sibuk memilih sayuran di dalam kulkas. Tanpa sadar, sebuah guratan terbentuk di bibirnya.

Aduh. Mikir apa sih lo Albedo. Senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Albedo berujar pada dirinya sendiri dan menampar pelan pipinya.

“Albedo”

“Ya?”

“Kenapa nampar pipi kamu sendiri?”

“Eh? Oh? Barusan ada nyamuk, hehe'”

X: “Halo.. Pak Albedo” A: “Iya halo Pak Xiao. Kenapa ketawa” X: “Gapapa haha. Lagi ngapain?” A: “Gak lagi ngapa-ngapain sih” X: “Lagi nemenin Klee tidur?” A: “Enggak. Aku lagi di kamar sendiri” X: “Oh.. Sama dong” A: “Xiao kenapa ngajakin telfonan?” X: “Udah dibilang aku ga bisa tidur” A: “Kalo ga bisa tidur tuh merem, baca doa, ngitung domba, bukan ngajak telfonan” X: “Ya kenapa sih lagian kamu juga mau-mau aja tuh aku ajak telfonan” A: “Kasian soalnya” X: “Jahat...” A: “Hahaha. Yaudah mau ngobrolin apa?” X: “Albedo” A: “Ya?” X: “Pernah nggak, ngerasa capek besarin anak sendirian?” A: “Kenapa nanya gitu? Kamu mau cari mama baru buat Qiqi?” X: “Gak gitu anjir” A: “Aku baru pertama kali denger kamu ngomong kasar haha” X: “Ya kamu ngomongnya ngawur banget” A: “Terus kenapa?” X: “Ya tanya aja sih. Karena kan statusnya kita sama, siapa tau kamu pernah ngerasa gitu juga. Aku udah 3 tahun besarin Qiqi sendiri, tapi kadang rasanya masih kesusahan terus” A: “Aku juga gitu, kok. Kerasa banget bedanya setelah Mona pergi dari rumah dan aku tinggal sendirian doang sama Klee” X: “Al” A: “Hm?” X: “Boleh aku nanya sesuatu?” A: “Boleh. Nanya apa?” X: “Tapi agak sensitif sih. Kalo kamu gamau jawab gapapa” A: “Tanya aja. Nanti aku yang putusin bakal jawab atau ngga pertanyaan dari kamu” X: “Okay.. Hmm.. Kalo boleh tau, alasan kamu cerai sama mantan istri kamu, apa?” A: “Kirain nanya apaan haha” X: “Kok malah ketawa sih?” A: “Ya soalnya kamu kayak mau nanya pertanyaan yang serius banget” X: “Ya emang serius kan..” A: “Iya, cuma aku ga expect aja kamu bakal nanya hal itu” X: “Maaf.. Ga usah dijawab gapapa” A: “Ga ada yang bilang aku ga mau jawab loh” X: “Err.. Terus, kenapa?” A: “Karena udah nggak cocok. Di rumah tangga aku sama Mona, udah nggak ada perasaan saling mencintai lagi” X: “Ah.. Maaf.. Aku nggak seharusnya nanyain itu” A: “Nggak papa kok. Bukan sesuatu yang harus dirahasian juga. Aku sama Mona sama-sama sibuk. Waktu awal-awal kita nikah, jadwalku di rumah sakit masih padat banget, aku pulang ke rumah selalu larut malam, Mona selalu udah tidur sama Klee” X: “Lanjutin dulu aja. Aku dengerin” A: “Puncaknya di tahun keempat pernikahan kita. Usia Klee baru 3 tahun waktu itu. Tapi hampir tiap hari aku sama Mona ribut. Ada aja yang dipermasalahin. Mulai dari aku yang jarang ada waktu buat keluarga, nggak pernah bantuin kerjaan Mona, nggak makan sarapan buatan Mona karena udah kesiangan, pokoknya tiap hari tuh selalu ada ribut. Sampe akhirnya suatu hari aku ajak ngobrol Mona baik-baik. Mona juga sadar kalo hubungan kita udah nggak kayak dulu lagi. Baik aku sama Mona sama-sama nggak mau bikin masa kecil Klee dipenuhi suara berantem terus tiap hari. Akhirnya setelah beberapa kali ngobrol, kita sepakat buat pisah. X: “Albedo.. Maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu inget lagi sama masa lalu” A: “Gapapa santai aja. Terus ya yaudah.. Kita mulai urus surat-surat buat cerai. Klee masih terlalu kecil jadi kita nggak kasih tau dia. Di hari Mona akhirnya pergi dari rumah, Mona akhirnya cerita sama Klee, walaupun Klee juga kayanya belum ngerti” X: “Kamu hebat banget...” A: “Thank you, Xiao. Kamu bahkan jauh lebih kuat dari aku. Makasih juga karena udah mau dengerin ceritaku” X: “Kan aku yang tanya, udah pasti aku dengerin” A: “Iya juga ya haha. Sekarang gimana?” Xiao: “Apanya?” A: “Abis denger ceritaku panjang lebar, udah ngantuk? Kan katanya suaraku bikin ngantuk” X: “Becanda doang tadi mah yailah. Aslinya mah karena emang pengen telfonan aja” A: “Hahaha” X: “Tapi emang udah lumayan ngantuk sih sekarang” A: “Yaudah tidur aja” X: “Kamu juga tidur ya abis ini” A: “Iyaa” X: “Okay. Selamat beristirahat, Pak Albedo. Thank you udah nemenin saya lewat telfon malam ini” A: “Haha iya sama-sama. Selamat beristirahat juga, Pak Xiao. Kalo gitu saya matiin telfonnya ya” X: “Iya. Good night, Albedo”

DO: – M/M, F/F, M/F – OC x Character – NSFW (Implisit) – ANGST – Sosial media & narasi fanfiction

DON'T: – NSFW (Eksplisit) – Age gap > 15 tahun – Historical atau tema berat lainnya

GENRE & UNIVERSE: – Genre: Romance, platonic, college, school, slice of life, domestic. – Universe: Enemies to lovers, friend to lovers, soulmate au, band au, hanahaki au

Genre/universe lain bisa dibicarakan dulu ya!~

FANDOM: – Genshin Impact – KPOP (Stray Kids & ENHYPEN)

PRICELIST:

  • Social Media Rp. 4000/tweets (diusahakan untuk maksimal 4 foto/tweets)

  • Narasi Rp25/words

  • Narasi NSFW Rp50/words

Minimal commis 500 words dan maksimal 4000 words per chapter.

HASIL – Narasi berbentuk PDF dikirim ke email – Social media berbentuk fofo dikirim via google drive – Boleh request apakah karyanya mau dipublikasikan di twitter saya atau tidak

SYARAT & KETENTUAN – Pengerjaan 1-2 minggu tergantung kesulitan – Revisi hanya 1 kali. Lebih dari itu maka ada biaya tambahan sebesar Rp5000/revisi – Pembayaran dengan cara DP 50% dari harga commis – Payment via Trakteer, BCA, Mandiri, Shopeepay, DANA (akan diberitahu jika sudah fix commis) – Request apapun silakan disampaikan saja, nggak perlu sungkan! Kalau sekiranya requestnya mudah, saya usahakan nggak ada biaya tambahan.

Terima kasih banyak!


© cereniteas, 2021.

“Pak, saya mau bikin kopi. Pak Xiao mau?” Ucap Albedo tiba-tiba.

“Eh? Ga usah. Saya bikin sendiri aja nanti abis dari kamar mandi”

“Gapapa pak, biar sekalian”

“Yaudah terserah pak Albedo aja”

Albedo mengangguk. Ia lalu bangun dari tempat tidur dan mulai menuangkan serbuk kopi yang tadi pagi diantar oleh karyawan hotel tersebut.

Tepat setelah Xiao mencuci muka dan menggosok gigi, kopi buatan Albedo jadi.

“Makasih” Ucap Xiao sambil menerima cangkir yang diberikan Albedo.

“Sama-sama”

Keduanya kini tengah duduk santai di balkon hotel, sambil menyeruput kopi buatan Albedo. Mereka membiarkan anak mereka untuk tidur sebentar lagi. Toh, kegiatan hari ini baru akan dimulai jam 8 nanti.

“Pak Albedo”

“Iya pak?”

“Makasih kopinya”

“Oh. Iya nggak masalah pak hehe”

“Oh iya pak”

“Ya?”

“Hm.. Gimana ngomongnya ya.. Saya udah mikirin ini agak lama sebenernya”

“Gimana, Pak?”

“Pak Albedo boleh manggil saya tanpa honorifik”

“Eh?”

“Ah maaf, bukan maksud saya sok kenal atau sok deket. Tapi saya rasa, kita udah kenal lumayan lama, dan usia kita juga nggak jauh beda. Jadi kayaknya, nggak apa-apa sih kalo pak Albedo manggil saya pake nama doang”

Albedo diam sejenak. Ucapan Xiao ada benarnya. Keduanya memang cukup dekat, atau bahkan bisa dibilang memang dekat. Tapi mereka berdua masih saja canggung satu sama lain tiap kali mengobrol.

“Emang beneran ga apa apa kalo saya manggilnya Xiao doang?”

“Ya.. Gapapa. Memangnya kenapa?”

“Kalo gitu.. Bapak boleh panggil saya Albedo aja”

Hening menyelimuti keduanya. Kalau boleh jujur, Albedo sebenarnya sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyum di bibirnya. Entah kenapa, mendengar ucapan Pak Xiao untuk tidak lagi menggunakan honorifik membuatnya sedikit senang. Kesannya, mereka berdua jadi lebih akrab.

“Papaaaa”

“Ayaahhh”

Kedua lelaki itu tiba-tiba saling memandang dan tersenyum.

“Anak-anak udah bangun, yuk masuk” Ajak Albedo.

“Iya, Albedo”

Albedo berkali-kali membolak-balikkan badanya. Ia tidak bisa tidur. Tidak pada saat Xiao, laki-laki yang beberapa minggu terakhir ini selalu hadir dalam pikirannya sedang tertidur pulas tepat di sebelahnya.

Ah anjing.

Aduh gue ngomong kasar lagi deh.

Albedo akhirnya memilih untuk bangun dan menyenderkan punggungnya pada headboard kasur. Ia menghela napas pelan. Dipandangnya lelaki bersurai hijau tua untuk beberapa saat.

“Kenapa gue tiba-tiba deg-degan ya” Ucapnya lirih.

Xiao sudah tertidur lelap. Kalo boleh jujur, di saat tidurpun, paras pak Xiao masih menawan, begitu pikir Albedo.

“Ah udah lah tidur aja. Besok seharian banyak kegiatan jadi gue harus istirahat sekarang”

Albedo lalu memilih untuk memejamkan matanya. Badannya ia condongnya ke kiri guna menghindari Xiao. Iya, Albedo takut kalo dia tiba-tiba ketiduran dan bangun dengan posisi memeluk Pak Xiao. Amit-amit, jangan sampai. Gue nggak mau Pak Xiao mikir yang aneh-aneh tentang gue.

“Oke. Merem, berdoa. Gue harus tidur. Harus bisa tidur” Ucapnya pada diri sendiri.

Sekitar pukul 6 sore, rombongan study tour dari sekolah Qiqi akhirnya sampai di hotel. Usai mendapat kunci kamar masing-masing, para wali murid bergegas menuju kamar hotel untuk meletakkan bawaannya, tak terkecuali Xiao dan Albedo.

“Kamar Qiqi dan Klee, di kamar 174 ya. Ini kuncinya” Ujar salah seorang guru yang juga menjabat sebagai pengurus acara study tour ini.

“Loh pak, kita satu kamar?” Albedo yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao akhirnya berbicara.

“Iya.. Udah duduknya depan belakang, kamarnya bareng juga, haha. Yaudah kalo gitu ayo taro bawaan kita di kamar”

Albedo mengangguk. Ia lalu mengikuti Xiao dan Qiqi yang sudah berjalan lebih dulu di hadapannya.

“Klee, sini jalan samping papa”

Gadis yang membawa tas ransel coklat itu mengangguk.

“Wah.. Luas juga ya kamarnya” Ucap Albedo saat Xiao baru saja membuka pintu kamar.

“Wajar sih pak, kan biaya study tournya juga mahal haha”

Albedo tertawa mendengar jawaban Xiao. “Iya sih, bener”

Setelah itu, keduanya sibuk merapikan bawaannya. Xiao membuka kopernya dan mengeluarkan baju ganti untuk anaknya.

“Pak, Qiqi boleh mandi duluan?” Xiao bertanya.

“Oh iya boleh silakan pak. Abis Qiqi mandi dipake pak Xiao dulu juga gapapa. Saya sama Klee bisa ntaran”

“Oke pak, makasih”


Keempatnya kini sudah mandi dan berganti baju. Ruangan hotel itu dipenuhi wangi khas bedak bayi dan minyak telon yang Xiao dan Albedo pakaiankan untuk anaknya.

“Papaahh” Salah seorang gadis kecil memanggil.

“Iyaa Klee kenapa?”

“Kasurnya gede bangeett! Ini kalo buat tidur papa sama ayah Qiqi cukup kan?”

“Hah? Maksud kamu?”

“Kalo Klee mau tidur sama Qiqi aja boleh gak? Klee bosen tidur terus sama papa”

“Terus nanti papa tidur di mana?”

“Papa tidur sama ayah Qiqi. Berdua!”

Glek. Albedo menelan ludahnya. Tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan anak semata wayangnya.

“Eh- gak bisa gitu dong Klee. Qiqi pasti mau bobo sama ayahnya juga. Kamu jangan egois gitu ah”

“Gakpapa”

“Hah?” Albedo menjawab.

“Qiqi gakpapa kok tidur sama Klee. Qiqi juga selama ini tidurnya sama ayah terus. Bosen” Gadis bersurai ungu muda itu melanjutkan kalimatnya.

Albedo hanya bisa bengong. Kalo ada perhargaan kategori mak comblang paling handal, kayaknya anak-anak mereka udah bisa jadi juaranya sih.

“Papa! Gimana?”

“Eh. Oh. Itu.. Pak Xiao.. Gimana?”

Xiao tidak menjawab. Ia justru tampak memerhatikan Albedo untuk beberapa saat.

“Pak Xiao?”

“A-ah iya. Maaf saya barusan ngelamun”

Ngelamun apanya. Orang jelas-jelas barusan lo merhatiin gue. Ucap Albedo dalam hati.

“Terserah aja. Kalo emang anak-anak mau gitu ya gapapa. Atau pak Albedo yang keberatan tidur sama saya?”

“Eh.. Itu.. Enggak sih”

“Yaudah, kalo gitu berarti biar anak-anak tidur bareng. Saya sama bapak tidur bareng”

“O-oke deh.. Sa-saya ngikut aja”

Di hari senin yang cerah, siswa-siswi taman kanak-kanak terlihat dengan tertib berbaris di halaman sekolah. Beberapa guru terlihat sibuk mengabsen muridnya serta membawa beberapa perlengkapannya ke dalam bus. Hari ini, kelas A dan kelas B akan melaksanan field trip atau study tour yang akan berlangsung selama 2 hari. Mereka akan mengunjungi banyak tempat yang pastinya menyenangkan dan juga bisa dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak usia dini.

Usai mempersiapkan semuanya, salah seorang guru membubarkan barisan anak-anak dan dengan sigap mengatur anak-anak tersebut untuk berjalan menuju bis.

“Qiqi.. Oh, di sini” Xiao berhenti setelah menemukan tempat duduknya yang ternyata berada di barisan cukup belakang. Ia segera menaruh tas serta beberapa perlengkapan penting lainnya di bagasi kabin bis.

“Pak Xiao?”

“Pak Albedo?”

“Ya ampun. Kita duduknya depan belakang ternyata”

“Loh iya. Klee duduknya di depan Qiqi ya”

“Qiqi!!!!!”

“Haloo Klee!”

“Qiqi mau duduk bareng Klee gak? Klee males duduk sama Papa”

Albedo sedikit kaget mendengar ucapan anaknya yang begitu ceplas-ceplos.

“Klee, kok gitu sama Papa?”

“Soalnya Kalo Klee cerita banyak hal Papa sukanya ngangguk-ngangguk doang, gak seru” Jawabnya.

Xiao, tentu saja tertawa melihat obrolan ayah dan anak di depannya.

“Ayah, Qiqi boleh duduk sama Klee?”

“Boleh, sayang”

“Yey! Sini-sini Qiqi ke sini duduk sebelah Klee” Klee dengan semangat menarik tangan Qiqi agar duduk di sampingnya.

“Pak Xiao, gapapa saya duduk di sebelah bapak?”

Untuk beberapa saat, Xiao hilang konsentrasi. Dia asal mengiyakan permintaan Qiqi tanpa sadar bahwa itu berarti ia harus duduk bersebalahan dengan Pak Albedo.

Anjir. Ini gue duduk sebelahan sama pak Albedo berarti?

“Pak Xiao?”

“O-oh. Iya pak silakan duduk sini”

Albedo yang sedari tadi masih berdiri akhirnya mulai duduk di sebelah Xiao.

Pak Albedo.. Wangi banget. Dia baru duduk beberapa detik aja langsung kecium bau parfumnya di sebelah gue. Xiao kembali bergumam dalam hati.

Klee.. Kenapa kamu hobi banget bikin papamu dalam keadaan sulit sih. Mau nolak ga enak, tapi jujur ini gue deg-degan banget duduk di sebelah Pak Xiao pas.

“Sudah naik semua ya? Coba saling ngecek samping dan depannya, apakah ada yang kursinya masih kosong?”

“Sudahh pakk”

“Baik kalo gitu sebentar lagi kita berangkat ya. Berdoa sesuai keyakinan masing-masing, dimulai”

“Selesai. Semuanya sudah siap?”

“Siapppp paakk!” Terdengar riuh suara anak-anak kecil yang menjawab pertanyaan guru mereka, Pak Kazuha.

“Baik, kita berangkat sekarang ya”

“Yeeeeaaayy!”

Xiao sudah sampai di parkiran, ia lalu berjalan pelan menuju ruang tunggu untuk menanti kehadiran buah hatinya. Di ruang itu, sudah ada kurang lebih 15 wali murid yang menunggu putra/putri mereka. Xiao dapat melihat Albedo yang sudah lebih dulu sampai. Ia duduk tak jauh dari tempatnya, dengan posisi kedua tangan ditumpu pada pahanya dan kepalanya menunduk.

“Ringggggg”

Suara bel pulang berbunyi, menandakan proses pembelajaran pada taman kanak-kanak tersebut telah usai.

“Papa! Yeee akhirnya yang jemput bukan Om Rara lagi!” Klee berseru saat ia menghampiri papanya. Lelaki itu hanya menjawab dengan senyuman. Sejujurnya, Albedo menyadari kehadiran Xiao, ia hanya berpura-pura seolah dirinya tidak melihat ayah gadis berambut ungu tersebut.

“Ayah” Buah hati Xiao kini menghampirinya.

“Oh, iya sayang. Yuk pulang” Entah mengapa, Xiao merasa ingin cepat-cepat pulang. Ada perasaan aneh dalam hatinya tiap kali ia menatap lelaki bersurai pirang yang jaraknya tak begitu jauh darinya.

“Sebentar, yah”

“Kenapa? Qiqi butuh sesuatu?”

“Sini. Ayah ikut Qiqi” Gadis kecil itu meraih tangan ayahnya. Sang ayah akhirnya berdiri, mengikuti ke arah gadis kecil itu membawanya.

“Klee”

Deg

Detik itu juga. Xiao dapat merasa jantung berdegub kencang. Rupanya, Qiqi membawanya ke tempat Albedo dan Klee yang tengah berbincang.

“Qiqi!” Jawab gadis dengan baju merah tersebut.

“Papa!” Klee mencoba memanggil papanya.

“O-oh i-iya. P-pak Xiao?” Ucapnya gugup.

“P-pak Albedo.. Halo” Ucapnya sambil memberi anggukan kepala sebagai tanda hormat.

“Papa sama Ayah Qiqi lagi berantem ya?”

“Hah?” Kedua lelaki tersebut menjawab secara bersamaan.

“Tuh kan. Soalnya udah lama Klee gak lihat om Xiao, terus pas udah ketemu, papa diem aja, gak nyapa om Xiao kayak biasanya”

“Eh.. Itu, maafㅡ”

“Nggak kok Klee. Om sama Papa Klee nggak berantem, cuma karena udah lama nggak ketemu aja jadi canggung” Xiao akhirnya mencoba memperbaiki suasana.

Albedo hanya memandangi Xiao untuk beberapa saat.

“Oh iya” Qiqi akhirnya bersuara. “Klee, jadi gak?”

“Jadi dong!”

“Emang kamu udah bilang?”

“Belum. Kan ini sekarang kita mau bilang”

Ayah dari kedua gadis tersebut tampak bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis-gadis tersebut.

“Papa! Abis ini sibuk gak?” Klee bertanya pada papanya.

“Ayah juga, abis ini ada kerjaan lagi gak?”

“Eh.. Nggak ada sih.. Kenapa memangnya?”

“Nggak kok, Klee. Jam tugas papa di rumah sakit udah selesai. Kenapa memangnya?”

“Yeeeey!” Klee tampak berseru kegirangan.

“Ayah, Qiqi mau makan siang bareng Klee, bisa?”

“Iya, pa! Klee mau makan siang bareng Qiqi boleh?”

Kedua bapak-bapak itu saling pandang. Sejujurnya, Xiao cukup lega karena bagaimanapun juga, ia ingin bisa kembali akrab dengan Albedo, dan begitu pula Albedo.

“Iya.. boleh”

“Yeeey! Ayo Qiqi kita berangkat sekarang! Klee laper banget nanti mau makan yang buanyak! Jajan yang dari sekolah tadi gak enak, gak Klee makan, tapi kamu diem aja ya jangan bilang pak guru!”

“Iya, Qiqi juga laper. Ayo yah, kita berangkat sekarang”

“O-okey...”

Klee meraih tangan papanya, mencoba menuntunnya untuk berjalan, dan Qiqi juga melakukan hal serupah. Sebuah pemandangan tak biasa, di mana dua orang ayah ditarik tangannya oleh anak masing-masing untuk berjalan.

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Qiqi deh'

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Klee deh'

jajsjsjwhafagagagiqeaswewswowos

Xiao sudah sampai di parkiran, ia lalu berjalan pelan menuju ruang tunggu untuk menanti kehadiran buah hatinya. Di ruang itu, sudah ada kurang lebih 15 wali murid yang menunggu putra/putri mereka. Xiao dapat melihat Albedo yang sudah lebih dulu sampai. Ia duduk tak jauh dari tempatnya, dengan posisi kedua tangan ditumpu pada pahanya dan kepalanya menunduk.

“Ringggggg”

Suara bel pulang berbunyi, menandakan proses pembelajaran pada taman kanak-kanak tersebut telah usai.

“Papa! Yeee akhirnya yang jemput bukan Om Rara lagi!” Klee berseru saat ia menghampiri papanya. Lelaki itu hanya menjawab dengan senyuman. Sejujurnya, Albedo menyadari kehadiran Xiao, ia hanya berpura-pura seolah dirinya tidak melihat ayah gadis berambut ungu tersebut.

“Ayah” Buah hati Xiao kini menghampirinya.

“Oh, iya sayang. Yuk pulang” Entah mengapa, Xiao merasa ingin cepat-cepat pulang. Ada perasaan aneh dalam hatinya tiap kali ia menatap lelaki bersurai pirang yang jaraknya tak begitu jauh darinya.

“Sebentar, yah”

“Kenapa? Qiqi butuh sesuatu?”

“Sini. Ayah ikut Qiqi” Gadis kecil itu meraih tangan ayahnya. Sang ayah akhirnya berdiri, mengikuti ke arah gadis kecil itu membawanya.

“Klee”

Deg

Detik itu juga. Xiao dapat merasa jantung berdegub kencang. Rupanya, Qiqi membawanya ke tempat Albedo dan Klee yang tengah berbincang.

“Qiqi!” Jawab gadis dengan baju merah tersebut.

“Papa!” Klee mencoba memanggil papanya.

“O-oh i-iya. P-pak Xiao?” Ucapnya gugup.

“P-pak Albedo.. Halo” Ucapnya sambil memberi anggukan kepala sebagai tanda hormat.

“Papa sama Ayah Qiqi lagi berantem ya?”

“Hah?” Kedua lelaki tersebut menjawab secara bersamaan.

“Tuh kan. Soalnya udah lama Klee gak lihat om Xiao, terus pas udah ketemu, papa diem aja, gak nyapa om Xiao kayak biasanya”

“Eh.. Itu, maafㅡ”

“Nggak kok Klee. Om sama Papa Klee nggak berantem, cuma karena udah lama nggak ketemu aja jadi canggung” Xiao akhirnya mencoba memperbaiki suasana.

Albedo hanya memandangi Xiao untuk beberapa saat.

“Oh iya” Qiqi akhirnya bersuara. “Klee, jadi gak?”

“Jadi dong!”

“Emang kamu udah bilang?”

“Belum. Kan ini sekarang kita mau bilang”

Ayah dari kedua gadis tersebut tampak bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis-gadis tersebut.

“Papa! Abis ini sibuk gak?” Klee bertanya pada papanya.

“Ayah juga, abis ini ada kerjaan lagi gak?”

“Eh.. Nggak ada sih.. Kenapa memangnya?”

“Nggak kok, Klee. Jam tugas papa di rumah sakit udah selesai. Kenapa memangnya?”

“Yeeeey!” Klee tampak berseru kegirangan.

“Ayah, Qiqi mau makan siang bareng Klee, bisa?”

“Iya, pa! Klee mau makan siang bareng Qiqi boleh?”

Kedua bapak-bapak itu saling pandang. Sejujurnya, Xiao cukup lega karena bagaimanapun juga, ia ingin bisa kembali akrab dengan Albedo, dan begitu pula Albedo.

“Iya.. boleh”

“Yeeey! Ayo Qiqi kita berangkat sekarang! Klee laper banget nanti mau makan yang buanyak! Jajan yang dari sekolah tadi gak enak, gak Klee makan, tapi kamu diem aja ya jangan bilang pak guru!”

“Iya, Qiqi juga laper. Ayo yah, kita berangkat sekarang”

“O-okey...”

Klee meraih tangan papanya, mencoba menuntunnya untuk berjalan, dan Qiqi juga melakukan hal serupah. Sebuah pemandangan tak biasa, di mana dua orang ayah ditarik tangannya oleh anak masing-masing untuk berjalan.

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Qiqi deh'

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Klee deh'