berkunjung ke rumah
Xiao baru saja memarkir mobilnya di basement apartment Albedo. Setelah diberitahu nomor unit apartment Albedo, Xiao segera berjalan pelan. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa deg-degan. Jangan lupa, ini adalah kali pertama Xiao menginjakkan kaki di rumah Albedo.
“Tingtong.” Suara bel berbunyi, menandakan Xiao sudah sampai di depan pintu.
“Masuk dulu, Xiao” Albedo mempersilakan lelaki di hadapannya untuk masuk dengan ramah.
“Xiao? Kok diem aja?”
“Eh- ah, maaf. Iya, makasih”
Iya, Xiao baru saja terpana dengan lelaki di hadapannya. Ini juga kali pertama Xiao melihat Albedo dengan pakaian santai rumahan. Albedo mengenakan celana panjang santai berwarna beige dengan atasan kaus oblong berwarna hitam. Di rumah doang aja tetep cakep.
“Qiqi, ayah dateng” Xiao berusaha memanggil anaknya, tapi nampaknya gadis itu tetap asik dengan mainannya bersama Klee dan tidak memedulikan kehadiran ayahnya.
“Duduk dulu aja, Xiao. Biar aku yang ngomong sama Qiqi sama Klee”
Albedo mengangguk. Ia akhirnya duduk di sofa dan memerhatikan sekeliling. Rapi. Apartemen Albedo benar-benar rapi, yah, bukan berarti apartemen Xiao super berantakan juga, sih, hanya saja, untuk ukuran rumah yang hanya dihuni satu bapak dan satu anak, keadaannya terlihat begitu rapi.
“Qiqi, Klee, udahan dulu ya, mainnya. Ayah Qiqi datang, tuh” Albedo memamggil gadis-gadis yang tengah asik bermain boneka.
“Ayah dateng???” Ujar Qiqi.
“Iya. Tadi dia manggil Qiqi, tapi Qiqi nggak denger”
Mendengar hal itu, Qiqi segara beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ayahnya.
“Ayah!”
Xiao balas anaknya dengan tersenyum.
“Maaf tadi Qiqi gak dengar ayah datang”
“Iya, gakpapa kok. Udah puas main sama Kleenya?”
“Beluum!” Suara gadis lain tiba-tiba menimpali.
“Eh?”
“Klee belum puas main sama Qiqi” Tiba-tiba Klee ikut berbicara.
“Klee, jangan gitu ah. Kan udah main dari tadi sama Qiqi” Albedo menimpali.
“Ayah Qiqi, boleh gak Qiqi pulangnya nanti malem aja?” Tanya Klee.
Xiao terdiam sejenak. Merasa bingung harus menjawab bagaimana.
“Ayah...” Xiao dapat melihat anaknya yang mulai memegangi celananya, pertanda bahwa ia mau keinginannya agar dituruti.
“Kan Qiqi udah main dari siang. Kasian juga papanya Klee nanti repot kalo Qiqi main lama-lama”
“Gakpapa! Kalo Klee gakpapa, papa juga pasti gakpapa, iya kan pa?”
Albedo hanya membalas dengan senyuman. “Iya, nggak masalah kok. Biar sekalian aku masakin makan malam juga”
Dan di sinilah, Xiao berakhir membantu Albedo di dapur, sedang anak-anaknya menonton serial kartun yang Albedo pilihkan untuk mereka. Kalo kalian bertanya-tanya kenapa Xiao akhirnya setuju, tentu saja karena Qiqi dan Klee yang memaksa.
Xiao masih duduk di meja makan saat Albedo mulai menyiapkan diri untuk memasak. Ia akhirnya memilih untuk berdiri, mengikuti Albedo yang sedang mengambil apron yang tergantung di tembok dan segera memakainya.
“Sini aku taliin” Xiao menawarkan diri saat ia melihat Albedo yang tengah melilitkan tali apronnya. Tidak, Albedo tidak kesusahan sama sekali, memang Xiao saja yang pengen caper sama Albedo.
“Nggak usah aku bisa sendiㅡ”
Untuk kali ini, kecepatan gerak Xiao melampaui kecepatan Albedo dalam menyelesaikan kalimatnya. Ia berdiri tegak di belakang Albedo, untuk beberapa saat memerhatikan lelaki di hadapannya.
“U-udah, belum?” Tanya Albedo sedikit gugup.
“Oh. Bentar”
Xiao mulai mengikat tali apron yang dikenakan Albedo. Kalau boleh jujur, dari jarak sedekat ini, Xiao bisa mencium jelas aroma yang menyeruak dari tubuh Albedo.
“Udah”
“Makasih, Xiao”
“Kamu pake parfum?”
“Hah? Enggak. Ngapain di rumah doang pake parfum”
“Badan kamu bau vanilla. Wangi banget”
Ada sedikit perasaan gugup kala Albedo mendengar kalimat itu keluar dari bibir Xiao.
“O-oh.. I'll take that as a compliment?”
Xiao tertawa kecil mendengar jawaban Albedo.
“Boleh-boleh aja. Udah yuk mulai masaknya. Mau masak apa?”
“Spaghetti mau?”
“Mau. Terserah kamu masak apa aja aku makan”
Albedo tersenyum kecil.
“Yaudah kalo gitu tolong ambilin sayuran di kulkas ya. Aku mau panasin airnya dulu”
“Siap, kapten!”
Albedo yang masih mengisi pancinya dengan air tiba-tiba menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap lelaki yang tengah sibuk memilih sayuran di dalam kulkas. Tanpa sadar, sebuah guratan terbentuk di bibirnya.
Aduh. Mikir apa sih lo Albedo. Senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Albedo berujar pada dirinya sendiri dan menampar pelan pipinya.
“Albedo”
“Ya?”
“Kenapa nampar pipi kamu sendiri?”
“Eh? Oh? Barusan ada nyamuk, hehe'”