Everything Deserves to be Celebrated

tags: angst, mcd, reincarnation au


Sinar mentari di pagi hari menerobos masuk melalui jendela kamar Xiao. Suara cicit burung yang berebut di luar sana sontak membangunkannya. Matanya mengerjap pelan. Sang pemilik surau hijau gelap itu menarik selimutnya kembali, dinginㅡ adalah yang ia rasakan pagi ini.

“Xiao, bangun” Suara seorang pria terdengar di seberang pintu kamarnya.

“Xiao. Lihat kalendermu, sekarang hari apa” Ucapnya lagi.

Xiao akhirnya bangkit dari ranjangnya dengan langkah gontai. Ia berdiri menuju meja di sisi pojok kamarnya untuk melihat kalender.

13 September.

Ah, sudah 1 tahun, rupanya.


“Xiao!” Seorang pemuda memanggil Xiao dengan mata berbinar. Parasnya begitu apik, dengan iris berwarna hijau teal yang bulat, serta rambut pirang terang yang dibiarkan tergerai.

Xiao tersenyum dan menghampiri pemuda yang usianya lebih muda beberapa bulan saja darinya.

“Di mana pengawalmu?” Xiao bertanya.

“Aku suruh dia jalan-jalan di sekitar sini. Tenang saja” Jawabnya.

Xiao hanya mengangguk.

“Albedo” Xiao memanggil nama pemuda tersebut dengan pelan.

“Ya?”

“Hmm.. Gapapa”

“Hah?”

“Gapapa. Ga jadi ngomong”

Tidak apa-apa. Xiao hanya sedang mengangumi paras elok lelaki di hadapannya saat ini.

“Aku hari ini bawa bunga” Ucap pemuda bernama Albedo tersebut.

“Bunga?”

“Iya! Kemarin aku jalan-jalan di taman rumahku, terus aku lihat banyak banget bunga yang lagi mekar!”

Ah, iya juga. Albedo adalah putra mahkota yang hidup di istana, jelas saja kehidupannya berbeda dengan Xiao

“Kamu bisa merangkai bunga, Xiao?”

Xiao menggeleng pelan.

“Kalo gitu, aku ajarin cara merangkai bunga ya! Minggu lalu aku sempat belajar merangkai bunga sama salah satu pelayan”

Albedo ini seorang bangsawan, sudah jelas, ia serba bisa.

Xiao hanya nengangguk. Albedo mulai mengeluarkan beberapa tangkai bunga yang telah ia bawa. Bunga Cecilia, Qingxin, Glaze Lily, Silk Flower, dan banyak bunga lainnya. Albedo sengaja memetiknya dari taman istananya.

“Hati-hati, nanti tangan kamu kena durinya” Albedo berucap.

Xiao kembali mengangguk. Keduanya kini sibuk merangkai bunga. Sesekali, keduanya akan bercanda dan saling melempar tawa.

“Selesai” Ucap Albedo saat ia telah menyelesaikan rangkaingan bunga miliknya.

“Coba lihat punya kamu” Ucapnya pada Xiao.

Xiao memperlihatkan karangan bunganya.

“Kenapa cuma pake 1 bunga?”

“Emang ga boleh?”

“Boleh. Maksud aku, kenapa kamu pilih pake bunga Cecilia?”

“Nggak papa. Aku suka aja. Bunga Cecilia mirip sama White Lily soalnya” Xiao menjawab.

“Emang kalo White Lily kenapa?”

“White lilies symbolise purity and rebirth. Kayak kamu”

Albedo menaikkan alisnya sedikit. “Maksud kamu?”

“Kamu mirip sama bunga lily putih. Sama-sama tulus dan bersih. Semenjak kenal kamu, aku ngerasa hidup lagi, sama kayak makna bunga lily putih, hidup kembali”

Albedo sedikit tercengang dengan jawaban Xiao.

“Aneh-aneh aja” Ia menjawab, dengan tersenyum.

“Al sini deh”

Albedo menoleh ke arah Xiao, dan detik itu juga, detak jantungnya berdegub kencang.

“Cantik” Ucap Xiao.

Sang pemiluk surai pirang tersebut mematung sejenak. Pasalnya, Xiao baru saja meletakkan sebuah bunga lily putih di telinganya.

“A... M... Makasih” Jawabnya gugup.

Lengkung bulan sabit terbentuk pada garis bibir Xiao. Ia benar-benar bersyukur telah mengenal Albedo selama hampir 2 tahun ini. Mereka tidak selalu bertemu, hanya sekali dalam sebulan, atau bahkan sekali dalam 2 bulan. Tapi Xiao selalu menantikan hari itu. Hari saat keduanya akan menghabiskan waktu bersama.

“Al”

“Iya Xiao kenapa?”

“Kalo aku bisa hidup lagi, aku mau kenal sama kamu lagi”

“He? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?”

“Aku kepikiran sama makna bunga lily putih itu. Rebirth. Kalo aku bisa lahir lagi, aku mau jadi temen kamu lagi. Makannya aku pasangin bunga lily di telinga kamu, biar kalo kamu hidup lagi, kita bisa tetep saling kenal” Jelasnya.

Bohong jika Albedo tidak tersentuh dengan untaian kata Xiao. Ia juga ingin bisa mengenal Xiao selamanya.

“Makasih banyak, Xiao. Aku juga berharap demikian”


“Pagi, Albedo. Nggak terasa, udah 1 tahun, ya”

“Aku baru aja keinget pertemuan kita 1 tahun lalu, tepatnya, 1 bulan sebelum pertemuan terakhir kita. Aku masih ingat semuanya dengan jelas. Tentang gimana kamu ngajarin aku ngerangkai bunga, dan tentang harapanku mengenai bunga lily putih”

“Mungkin nggak ya, harapan aku terkabul? Pasti mungkin, kan? Kita bakal ketemu lagi, kan, Al?”

Iris mata Xiao mulai bergetar, matanya berkaca-kaca, tak sanggup membendung air mata yang sudah sangat ingin ia keluarkan sejak tadi.

“Al.. Aku sekarang sendirian. Nggak ada kamu lagi di sisiku. Aku sekarang hidup cuma sama ayah. Ibu dan Qiqi juga udah pergi, mereka nyusulin kamu”

Albedo menarik nafasnya perlahan, lalu mengeluarkannya dengan tenang.

“Selamat ulang tahun, Albedo”

Dihapusnya air mata yang telah membasahi pipi Xiao sejak tadi. Telapak tangannya, berkali-kali mengusap batu nisan di sampingnya.

“Happy birthday, Albedo. Even if you're no longer here in this world, everything deserves to be celebrated, right? I will never forget you. Even if i die, i will search for you again, in another life, Albedo”

Suara langkah kaki yang menuju ke arahnya membuat Xiao akhirnya menoleh.

“Xiao. Ayo pulang. Kamu udah seharian di makam Albedo”

Adalah suara Zhongli, ayah Xiao, yang menjemputnya untuk pulang.

“Ayah. Abis ini kita mampir dulu ke makam ibu sama Qiqi ya?”

Zhongli hanya mengangguk.


Teruntuk Albedo, sang putra mahkota, pewaris tahta kerajaan.

Terima kasih karena sudah pernah hadir dalam hidup. Sebuah pertemuan pasti harus diakhiri dengan perpisahan, bukan? Tidak apa-apa. Aku masih punya harapan dengan bunga lily putih waktu itu. Baik kamu maupun aku, kita akan lahir kembali, dan di saat itulah, aku akan kembali mengenalmuㅡ bukan, bukan hanya mengenalmu, tapi mencintaimu. Selamat ulang tahun, Albedo. Apa kau juga merayakan ulang tahunmu di nirwana atas sana?

Dari Xiao, anak seorang petani biasa, yang secara tidak sengaja jatuh cinta dengan putra kerajaan. Ku harap kita bisa segera bertemu.