rainy day

rabu, pukul 16.00.

felix berjalan menyusuri lorong gedung. di luar sedang turun hujan. ia terus berjalan hingga sampai di lobi gedung fakultasnya. hujan masih belum reda. felix menengadahkan tangannya, mencoba merasakan rintikan hujan yang jatuh ke telapak tangannya.

“deres banget. kayanya hujannya bakal awet” gumam felix dalam hati.

teman-temannya, seungmin dan jisung, sudah pulang terlebih dahulu, sedang hyunjin ada perkumpulan ukm. kelas mereka sebenarnya selesai sejak pukul 15.00, hanya saja, felix sempat mampir ke perpustakaan untuk meminjam buku hingga tanpa sadar, hujanpun turun.

felix menyilangkan tangan di dadanya, terlihat sedikit kesal dengan keadaan sekarang. ia tidak membawa payung hari ini, dan jarak dari kampus ke tempat pemberhentian bus cukup jauh.

felix menghela nafas panjang, saat tiba-tiba seseorang datang mengagetkannya.

“felix?” sapa lelaki tersebut.

“c-changbin hyung?” jawab felix.

“ga bawa payung?”

“i-itu.. i-iya..” jawab felix sambil menundukkan kepalanya.

“hujannya deres banget. kayanya bakal awet” kali ini giliran changbin yang bergumam sendiri.

keduanya berdiri bersampingan, menatap turunnya air hujan dari langit untuk beberapa saat.

“mau pulang bareng?” tawar changbin tiba-tiba.

“h-hah?”

“lo gue anterin pulang. gimana?”

felix hanya memandang keheranan.

“lo ga bawa payung, kan? jarak ke halte juga lumayan jauh. ini udah hampir petang, loh”

lagi-lagi, felix merasa bahwa perkataan changbin memang selalu masuk akal. tapi, mengingat bagaimana changbin menggodanya tempo hari saat di kantin, felix berniat menolak ajakannya.

“gue ke parkiran dulu. lo tunggu sini aja, ntar gue yang samperin lo ke sini. oke?”

belum sempat menjawab, changbin sudah berlari menuju parkiran, meninggalkan felix tanpa menunggu jawaban darinya.