the first meeting
pukul 17.00
hari sudah semakin sore, sekarang waktunya penyerahan mahasiswa baru kepada fakultas masing-masing. tentu saja, felix diserahkan ke fakultas seni.
seorang pemuda duduk tidak jauh dari tempat mahasiswa berdiri, matanya memandang ke arah lelaki bersurai blonde, felix. pemuda itu menatap ke arah felix, merasa tidak asing dengan wajah yang ia lihat saat ini.
setelah mendengar penutupan dari panitia, mahasiswa baru segera diarahkan untuk menuju kelompok masing-masing, didampingi oleh satu kakak tingkat.
kelompok 5
lee felix kim seungmin han jisung hwang hyunjin
pendamping: seo changbin/lee minho
felix dan seungmin memandangi kertas berisi nama kelompok yang ditempelkan di dinding.
“kita satu kelompok!” ucap felix kegirangan.
“tapi.. kenapa pendamping kita 2 orang? bukannya tadi disebutkan hanya 1 ya?” ucap seungmin keheranan.
“iya juga ya”
“yasudah lah, ayo kita berkumpul di kelompok kita”
**
felix dan seungmin akhirnya menemukan kelompoknya. jisung dan hyunjin, keduanya juga jurusan seni tari. entah suatu kebetulan atau bukan, tapi mereka semua berasal dari satu jurusan, padahal kelompok lain terdiri dari banyak kelompok.
seorang pemuda yang lebih tua terlihat menghampiri felix dan kelompoknya.
“halo, adik-adik. selamat datang di kampus kami dan selamat menjadi mahasiswa” lelaki itu menyapa.
“nama gue lee minho, tapi biasa dipanggil lee know. gue disini yang bakal jadi pendamping kalian selama ospek jurusan. gapapa, santai aja. harusnya tahun ini gue semester 5, tapi gue sempet ambil cuti satu tahan karena cidera, makannya, sekarang gue cuma 1 tingkat di atas kalian. oh, dan, panggil gue hyung aja ya” pemuda itu melanjutkan sapaannya.
felix beserta teman-temannya hanya mengangguk memerhatikan ucapan lee know.
“oh, kalian mungkin bingung ya ngeliat di papan, nama pendamping kalian ada 2?”
“iya hyung” jawab seungmin.
“sebenernya, bukan gue yang bertanggung jawab jadi pendamping kalian, tapi temen gue. changbin, namanya. tapi, kakinya masih cidera, jadi dia gabisa banyak ngedampingin kalian. mungkin besok dia bakal nengokin kali, tapi kalau ada apa-apa, bilang ke gue aja ya”
“oh begitu..” jawab jisung.
“itu orangnya, disana” lee know menunjuk pada pemuda bernama changbin yang tengah duduk di bangku, tidak jauh dari tempat mereka berdiskusi.
felix terperanjat. ia mengenal wajah itu. kakak tingkat yang seharusnya menjadi pendampingnya itu adalah pemuda yang ia tabrak tempo hari lalu.
merasa diperhatikan, changbin akhirnya bangkit. ia berjalan dengan alat bantu jalannya, menghampiri kelompok felix.
“hai. gue changbin, yang seharusnya jadi pendamping kalian. sorry banget, kayanya gue ga bisa banyak membantu karena lo bisa liat sendiri kondisi gue sekarang”
felix menunduk, ia merasa bersalah.
“gapapa, ga perlu khawatir. gue kaya gini emang karena kesalahan gue sendiri. dan, kalo kalian butuh apa-apa, ga harus ke lee know kok. kalo gue bisa bantu, gue bakal bantu kalian sebisa mungkin” ucap changbin.
selesai perkenalan, lee know segera membagikan penugasan dan apa saja yang perlu disampaikan.
**
acara hari ini selesai. felix melangkahkan kaki untuk segera menuju gerbang keluar, saat seorang pemuda menghampirinya.
“lee felix, ya?” sapa pemuda tersebut.
felix menoleh. changbin. pemuda tersebut adalah changbin. felix kira, changbin tidak menyadari keberadaannya.
“i-iya, sunbae-nim” sapa felix, sembari menundukan kepalanya.
changbin tertawa kecil. “panggil gue hyung aja. anyway, kita ketemu lagi, ya?”
felix tidak berani menjawab.
“sampai bertemu besok, lee felix” changbin melontarkan satu kalimat terakhir dan segera meninggalkan felix begitu saja.