Angin yang berhembus di sore hari melalui jendela laboratorium sesaat menyegarkan pikiran Albedo. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di laboratorium. Ah, banyak sekali pekerjaanku yang belum terselesaikan, pikirnya. Sudah beberapa hari ini Albedo selalu berkutat di laboratorium tempatnya bekerja, meneliti sample sample data, hingga melakukan berbagai macam eksperimen tentang kimia. Xiao tidak begitu mengerti tentang pekerjaan Albedo, tapi yang jelas, ia tahu, suaminya selalu bekerja keras dalam hal apapun.
Saat bulan purnama dan gemerlip bintang mulai menampakkan wujudnya, Albedo akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.
“Ah, sudah pukul 9 malam. Xiao pasti sudah tidur” Ia bergumam dalam hati.
Tak lama kemudian, samar-samar Albedo mendengar bunyi getar dalam totebag yang ia bawa. Rupanya, ia lupa untuk menyalakan mode suara karena seharian ini ponselnya berada dalam mode heningㅡ tuntutan pekerjaan, agar tidak menganggu.
“Xiao?” Albedo menjawab panggilan telepon saat itu juga.
“Oh, aku baru saja selesai”
“Apa? Kamu mau jemput aku? Tapi ini udah jam 9 lebih, Xiao”
“Aku bisa pulang taksi, kok”
“Ah, baiklah, baiklah. Tidak akan habisnya kalau debat ini kita lanjutkan. Aku tunggu kamu di supermarket dekat tempat kerjaku ya”
“Baiklah. Hati-hati, Xiao”
Sesampainya di apartment, Albedo segera berlalu menuju kamar mandi guna membersihkan badannya.
“Kamu laper, nggak?” Yang lebih tua bertanya ketika ia melihat Albedo tengah berjalan hendak mengambil handuknya.
“Hm.. Lumayan, tapi nggak laper-laper banget, sih. Tapi waktu nunggu jemputan kamu aku udah minum kopi segelas, soalnya”
“Minum kopi mana bikin kenyang” Jawabnya.
“Perutku nggak kayak perutmu yang laper terus, Xiao” Albedo menimpali.
“Aku masakin ramen, mau? Aku mau makan berdua bareng kamu”
Sang pemilik surai pirang mengangguk. “Kalo gitu aku mandi dulu, ya” Jawabnya.
Xiao telah menyelesaikan acara masak-memasaknya. Setelah menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama Albedo, Xiao jadi lebih sering memasaka. Sesekali, ia akan minta diajarkan memasak oleh Albedo, dan tentu saja, Albedo dengan senang akan mengajarinya. Xiao yang awalnya bahkan tidak bisa memecah telur dengan apik, kini ia sudah bisa memasak ramen dan beberapa makanan lainnya.
“Udah mateng?” Albedo berjalan pelan ke arah suaminya, sebuah handuk putih kecil masih tergantung di kepalanya.
Xiao berbalik, sejenak ia menatap lelaki di hadapannya. Mereka sudah menikah selama 1 tahun, dan berpacaran selama 2 tahun, dan Xiao, berapa kalipun ia menatap paras Albedo, ia akan jatuh cinta lagi. Bulu mata si pirang yang lentik, kilau hijau emerald yang terpancar dari iris matanya, lalu bibir merah mudanya yang terlihat lembab, serta rambut pirangnya yang digerai bebas dan masih sedikit basah. Xiao kembali dibuat jatuh cinta.
“Xiao? Kamu kenapa?” Tanyanya.
“Ah, gapapa. Oh ini udah jadi ramennya. Sebentar aku pindah ke mangkuk dulu”
“Biar aku ambilin mangkuknya” Albedo bergerak sedikit lebih cepat dari suaminya.
Xiao hanya mengangguk dan menunggu suaminya mengambil 2 mangkuk dari rak tempat piring.
“Enak ngga?” Sang pemilik surai hijau tua bertanya.
Albedo mengangguk bersemangat. Keduanya kini tengah menikmati makanan mereka di balkon, Albedo yang menyarankan, menurutnya, langit malam ini sangat cerah. Ia ingin menikmati malam hari yang tenang ini bersama suaminya.
Usai menikmati makanan mereka, Albedo memilih untuk membawa masuk mangkuk berserta gelas bekas mereka makan. Ia mencuci peralatan makannya untuk sejenak, lalu kembali ke balkon untuk menemani suaminya.
“Al”
“Hm?”
“Kamu hari ini ngapain aja?”
“Hm.. Aku ngerjain macem-macem di lab. Neliti sampel-sampel kayak biasa, sih. Kalo tadi, aku banyak neliti sample darah pasien sih. Terus, tadi pas aku masih mau ngambil mikroskop, dikit lagi mikroskopnya bakal jatuh! Gara-garanya aku masih pake sarung tangan, jadi tanganku licin”
Xiao menatap lelaki di hadapannya dengan tenang, tanpa berkedip sedikitpun. Ia suka saat Albedo bercerita banyak tentang harinya.
Listening to your stories has become my hobby
Ia mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia masih, dan akan selalu memerhatikan cerita Albedo.
“Capek nggak?” Ia kembali bertanya.
“Capek, lah. Mana akhir-akhir ini aku lembur terus. Berangkat pagi, pulang malem. Banyak banget yang harus dikerjain di lab. Ngumpulin data dan sampel, bikin laporan, ngurus ini itu, macem-macem. Ketemu kamu juga cuma kalo malem doang, padahal kita udah nikah”
Xiao kembali tersenyum. Ia senang saat Albedo mengeluh, saat ia mengeluarkan keluh kesahnya.
I wanna listen to all your worries Let me share your load So you can break free from the heavy burden you've been carrying
Baginya, Albedo adalah kebahagiaannya. Ia ingin memastikan pada Albedo bahwa ia tidak sendiri.
“Makasih, ya” Xiao akhirnya berucap.
“Hah? Makasih buat apa?”
“Karena kamu udah mau cerita sama aku. Aku seneng dengerin cerita kamu. Kamu boleh cerita apa ke aku, mau ngeluh, mau marah, luapin aja semuanya ke aku. Kalo kamu punya masa-masa sulit, kamu bisa cerita ke aku. Until your cloud of worries disappear from your clear eyes, Al”
Albedo balik terdiam. Ia akhirnya menatap paras lelaki di hadapannya. Ah, betapa bahagianya ia mempunyai Xiao sebagai pelengkap hidupnya
Sebuah lengkungan tergambar di bibir sang surai pirang. Senyum yang begitu cantik, hingga Xiao ingin menyimpan senyum itu hanya untuk dirinya. Ia tidak mau dunia melihat senyum seindah dan secantik milik Albedo. Egois, tapi Xiao benar-benar mengagumi senyum elok suaminya.
“Aku suka kalo kamu senyum” Ucapnya, tiba-tiba.
“Hah?”
For no other reason, I like you When I look at you smile, there is nothing more I could ask for Because I just like you
“Aku suka liat senyum kamu. Kamu selalu keliatan paling cantik kalo lagi senyum, tapi, kamu nggak perlu maksa diri kamu buat senyum terus ya. Kalo lagi sedih, kamu boleh nangis. Aku cuma nggak mau kamu nahan beban apapun sendirian. We're husband now, right? Kita udah bukan orang asing seperti 3 tahun lalu” Lanjutnya.
Albedo kembali menatap iris mata lelaki di hadapannya. 1 tahun pernikahan, tentunya cukup banyak yang terjadi di antara keduanya. Tawa, canda, tangis, dan kebahagiaan, mereka berdua sudah pernah merasakan semuanya bersama.
Even though you look the prettiest when you smile When you just wanna cry, don't fake a smile
“Makasih ya” Albedo akhirnya berbicara. Singkat, namun ketulusan begitu terlihat dalam ucapannya. Dari caranya berbicara, dari caranya tersenyum, hingga dari matanya yang saat ini membentuk sebuah garis lurus.
“Xiao, aku mungkin udah ngomongin ini berkali-kali. Tapi, aku bener-bener bersyukur bisa ketemu kamu lagi di kehidupan ini. Aku bersyukur kita bisa bersama lagi. Kamu juga selalu mastiin aku biar aku baik-baik aja. All the thing you've ever did, thank you so much, Xiao”
Xiao balik tersenyum. “Its all because i like you, sayang”
Albedo terdiam sejenak.
“Aku suka kamu, sejak pertemuan pertama kita di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan kita hari ibu. Aku selalu suka sama kamu”
Dinginnya angin malam hari mulai mereka rasakan. Gemerlap bintang malam ini masih menemani keduanya. Albedo sedikit lebih lama menatap iris mata lelaki di hadapannya, yang juga dibalas tatap oleh Xiao. Ah, dunia serasa hanya milik berdua.
Perlahan tatapan Albedo terarah ke bibir lelaki di hadapannya. Lantas wajah pemuda itu bergerak mendekat ketika Xiao memejamkan mata. Detik di mana bibir mereka bertemu, Albedo bisa merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia suka, ia suka saat dirinya mencium Xiao tanpa ada penolakan. Sebuah ciuman singkat yang manis dan hangat, Albedo menyukainya.
Usai bibir mereka bertemu untuk beberapa saat, Albedo menarik kembali wajahnya, namun terlambat. Tangan Xiao lebih dulu mendorong leher Albedo untuk kembali mempertemukan bibir mereka. Kali ini, Xiao yang mendominasi. Lidahnya beberapa kali ia selipkan pada mulut manis Albedo. Kepala Albedo benar-benar panas, kupu-kupu dalam perutnya seperti berebut untuk mengepakkan sayapnya. Udara dingin malam ini benar-benar tak ada artinya bagi Albedo yang saat ini hanya bisa memejamkan matanya. Tak apa, ia juga suka Xiao yang seperti ini.
“Udah makin malem, ayo tidur” Ucap Xiao saat ia akhirnya menyelsaikan ciuman panasnya dengan suaminya.
Albedo hanya mengangguk. Ditangkapnya tangan lelaki yang sudah lebih dulu berdiri dan menyalurkan tangannya.
I just really love you You're the only reason why I really love you When I see you smile I just can't get enough And I can't live without you Baby I just really love you
2021, based on Seo Changbin & Lee Felix's song, Because I Like you.