Xiao sudah sampai di parkiran, ia lalu berjalan pelan menuju ruang tunggu untuk menanti kehadiran buah hatinya. Di ruang itu, sudah ada kurang lebih 15 wali murid yang menunggu putra/putri mereka. Xiao dapat melihat Albedo yang sudah lebih dulu sampai. Ia duduk tak jauh dari tempatnya, dengan posisi kedua tangan ditumpu pada pahanya dan kepalanya menunduk.

“Ringggggg”

Suara bel pulang berbunyi, menandakan proses pembelajaran pada taman kanak-kanak tersebut telah usai.

“Papa! Yeee akhirnya yang jemput bukan Om Rara lagi!” Klee berseru saat ia menghampiri papanya. Lelaki itu hanya menjawab dengan senyuman. Sejujurnya, Albedo menyadari kehadiran Xiao, ia hanya berpura-pura seolah dirinya tidak melihat ayah gadis berambut ungu tersebut.

“Ayah” Buah hati Xiao kini menghampirinya.

“Oh, iya sayang. Yuk pulang” Entah mengapa, Xiao merasa ingin cepat-cepat pulang. Ada perasaan aneh dalam hatinya tiap kali ia menatap lelaki bersurai pirang yang jaraknya tak begitu jauh darinya.

“Sebentar, yah”

“Kenapa? Qiqi butuh sesuatu?”

“Sini. Ayah ikut Qiqi” Gadis kecil itu meraih tangan ayahnya. Sang ayah akhirnya berdiri, mengikuti ke arah gadis kecil itu membawanya.

“Klee”

Deg

Detik itu juga. Xiao dapat merasa jantung berdegub kencang. Rupanya, Qiqi membawanya ke tempat Albedo dan Klee yang tengah berbincang.

“Qiqi!” Jawab gadis dengan baju merah tersebut.

“Papa!” Klee mencoba memanggil papanya.

“O-oh i-iya. P-pak Xiao?” Ucapnya gugup.

“P-pak Albedo.. Halo” Ucapnya sambil memberi anggukan kepala sebagai tanda hormat.

“Papa sama Ayah Qiqi lagi berantem ya?”

“Hah?” Kedua lelaki tersebut menjawab secara bersamaan.

“Tuh kan. Soalnya udah lama Klee gak lihat om Xiao, terus pas udah ketemu, papa diem aja, gak nyapa om Xiao kayak biasanya”

“Eh.. Itu, maafㅡ”

“Nggak kok Klee. Om sama Papa Klee nggak berantem, cuma karena udah lama nggak ketemu aja jadi canggung” Xiao akhirnya mencoba memperbaiki suasana.

Albedo hanya memandangi Xiao untuk beberapa saat.

“Oh iya” Qiqi akhirnya bersuara. “Klee, jadi gak?”

“Jadi dong!”

“Emang kamu udah bilang?”

“Belum. Kan ini sekarang kita mau bilang”

Ayah dari kedua gadis tersebut tampak bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis-gadis tersebut.

“Papa! Abis ini sibuk gak?” Klee bertanya pada papanya.

“Ayah juga, abis ini ada kerjaan lagi gak?”

“Eh.. Nggak ada sih.. Kenapa memangnya?”

“Nggak kok, Klee. Jam tugas papa di rumah sakit udah selesai. Kenapa memangnya?”

“Yeeeey!” Klee tampak berseru kegirangan.

“Ayah, Qiqi mau makan siang bareng Klee, bisa?”

“Iya, pa! Klee mau makan siang bareng Qiqi boleh?”

Kedua bapak-bapak itu saling pandang. Sejujurnya, Xiao cukup lega karena bagaimanapun juga, ia ingin bisa kembali akrab dengan Albedo, dan begitu pula Albedo.

“Iya.. boleh”

“Yeeey! Ayo Qiqi kita berangkat sekarang! Klee laper banget nanti mau makan yang buanyak! Jajan yang dari sekolah tadi gak enak, gak Klee makan, tapi kamu diem aja ya jangan bilang pak guru!”

“Iya, Qiqi juga laper. Ayo yah, kita berangkat sekarang”

“O-okey...”

Klee meraih tangan papanya, mencoba menuntunnya untuk berjalan, dan Qiqi juga melakukan hal serupah. Sebuah pemandangan tak biasa, di mana dua orang ayah ditarik tangannya oleh anak masing-masing untuk berjalan.

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Qiqi deh'

'Kayaknya gue harus berterima kasih sama Klee deh'