ngopi di pagi hari

“Pak, saya mau bikin kopi. Pak Xiao mau?” Ucap Albedo tiba-tiba.

“Eh? Ga usah. Saya bikin sendiri aja nanti abis dari kamar mandi”

“Gapapa pak, biar sekalian”

“Yaudah terserah pak Albedo aja”

Albedo mengangguk. Ia lalu bangun dari tempat tidur dan mulai menuangkan serbuk kopi yang tadi pagi diantar oleh karyawan hotel tersebut.

Tepat setelah Xiao mencuci muka dan menggosok gigi, kopi buatan Albedo jadi.

“Makasih” Ucap Xiao sambil menerima cangkir yang diberikan Albedo.

“Sama-sama”

Keduanya kini tengah duduk santai di balkon hotel, sambil menyeruput kopi buatan Albedo. Mereka membiarkan anak mereka untuk tidur sebentar lagi. Toh, kegiatan hari ini baru akan dimulai jam 8 nanti.

“Pak Albedo”

“Iya pak?”

“Makasih kopinya”

“Oh. Iya nggak masalah pak hehe”

“Oh iya pak”

“Ya?”

“Hm.. Gimana ngomongnya ya.. Saya udah mikirin ini agak lama sebenernya”

“Gimana, Pak?”

“Pak Albedo boleh manggil saya tanpa honorifik”

“Eh?”

“Ah maaf, bukan maksud saya sok kenal atau sok deket. Tapi saya rasa, kita udah kenal lumayan lama, dan usia kita juga nggak jauh beda. Jadi kayaknya, nggak apa-apa sih kalo pak Albedo manggil saya pake nama doang”

Albedo diam sejenak. Ucapan Xiao ada benarnya. Keduanya memang cukup dekat, atau bahkan bisa dibilang memang dekat. Tapi mereka berdua masih saja canggung satu sama lain tiap kali mengobrol.

“Emang beneran ga apa apa kalo saya manggilnya Xiao doang?”

“Ya.. Gapapa. Memangnya kenapa?”

“Kalo gitu.. Bapak boleh panggil saya Albedo aja”

Hening menyelimuti keduanya. Kalau boleh jujur, Albedo sebenarnya sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyum di bibirnya. Entah kenapa, mendengar ucapan Pak Xiao untuk tidak lagi menggunakan honorifik membuatnya sedikit senang. Kesannya, mereka berdua jadi lebih akrab.

“Papaaaa”

“Ayaahhh”

Kedua lelaki itu tiba-tiba saling memandang dan tersenyum.

“Anak-anak udah bangun, yuk masuk” Ajak Albedo.

“Iya, Albedo”