bobo bareng

Sekitar pukul 6 sore, rombongan study tour dari sekolah Qiqi akhirnya sampai di hotel. Usai mendapat kunci kamar masing-masing, para wali murid bergegas menuju kamar hotel untuk meletakkan bawaannya, tak terkecuali Xiao dan Albedo.

“Kamar Qiqi dan Klee, di kamar 174 ya. Ini kuncinya” Ujar salah seorang guru yang juga menjabat sebagai pengurus acara study tour ini.

“Loh pak, kita satu kamar?” Albedo yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao akhirnya berbicara.

“Iya.. Udah duduknya depan belakang, kamarnya bareng juga, haha. Yaudah kalo gitu ayo taro bawaan kita di kamar”

Albedo mengangguk. Ia lalu mengikuti Xiao dan Qiqi yang sudah berjalan lebih dulu di hadapannya.

“Klee, sini jalan samping papa”

Gadis yang membawa tas ransel coklat itu mengangguk.

“Wah.. Luas juga ya kamarnya” Ucap Albedo saat Xiao baru saja membuka pintu kamar.

“Wajar sih pak, kan biaya study tournya juga mahal haha”

Albedo tertawa mendengar jawaban Xiao. “Iya sih, bener”

Setelah itu, keduanya sibuk merapikan bawaannya. Xiao membuka kopernya dan mengeluarkan baju ganti untuk anaknya.

“Pak, Qiqi boleh mandi duluan?” Xiao bertanya.

“Oh iya boleh silakan pak. Abis Qiqi mandi dipake pak Xiao dulu juga gapapa. Saya sama Klee bisa ntaran”

“Oke pak, makasih”


Keempatnya kini sudah mandi dan berganti baju. Ruangan hotel itu dipenuhi wangi khas bedak bayi dan minyak telon yang Xiao dan Albedo pakaiankan untuk anaknya.

“Papaahh” Salah seorang gadis kecil memanggil.

“Iyaa Klee kenapa?”

“Kasurnya gede bangeett! Ini kalo buat tidur papa sama ayah Qiqi cukup kan?”

“Hah? Maksud kamu?”

“Kalo Klee mau tidur sama Qiqi aja boleh gak? Klee bosen tidur terus sama papa”

“Terus nanti papa tidur di mana?”

“Papa tidur sama ayah Qiqi. Berdua!”

Glek. Albedo menelan ludahnya. Tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan anak semata wayangnya.

“Eh- gak bisa gitu dong Klee. Qiqi pasti mau bobo sama ayahnya juga. Kamu jangan egois gitu ah”

“Gakpapa”

“Hah?” Albedo menjawab.

“Qiqi gakpapa kok tidur sama Klee. Qiqi juga selama ini tidurnya sama ayah terus. Bosen” Gadis bersurai ungu muda itu melanjutkan kalimatnya.

Albedo hanya bisa bengong. Kalo ada perhargaan kategori mak comblang paling handal, kayaknya anak-anak mereka udah bisa jadi juaranya sih.

“Papa! Gimana?”

“Eh. Oh. Itu.. Pak Xiao.. Gimana?”

Xiao tidak menjawab. Ia justru tampak memerhatikan Albedo untuk beberapa saat.

“Pak Xiao?”

“A-ah iya. Maaf saya barusan ngelamun”

Ngelamun apanya. Orang jelas-jelas barusan lo merhatiin gue. Ucap Albedo dalam hati.

“Terserah aja. Kalo emang anak-anak mau gitu ya gapapa. Atau pak Albedo yang keberatan tidur sama saya?”

“Eh.. Itu.. Enggak sih”

“Yaudah, kalo gitu berarti biar anak-anak tidur bareng. Saya sama bapak tidur bareng”

“O-oke deh.. Sa-saya ngikut aja”