Winter Falls

A chiscara songfic based on Winter Falls by Stray Kids.

Tags: post-break up, angst, past relationship, flashback, modern setting.


“Gue suka sama lo. Ayo pacaran.”

Di tengah terangnya cahaya matahari yang menyinari musim salju kala itu, lelaki dengan surai jingga menatap lurus ke arah sosok yang lebih kecil di hadapannya.

“Maksudnya apa?” sosok yang lebih kecil itu bertanya, nada bicaranya terdengar sedikit judes.

“Gue suka sama lo, masih kurang paham?”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa lo suka sama gue, kak Ajax?”

Lelaki jangkung yang ternyata bernama Ajax itu terdiam sejenak, sorot matanya mulai memperlihatnya tanda bahwa ia sedang berpikir keras.

“Entah lah, gue juga gatau kenapa. Yang jelas, lo menarik di mata gue, Scaramouche.”

Lelaki yang lebih kecil itu bernama Scaramouche, ia adalah mahasiswa pindahan sekaligus room mate Ajax di asrama selama 6 bulan ke belakang.

Keseharian Ajax setiap hari adalah bersama Scaramouche, atau yang lebih akrab dipanggil Scara. Di pagi hari, mereka akan berjalan ke kampus secara bersamaan dan berpisah di lobi guna menuju gedung masing-masing. Ajax adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5, sedang Scara adalah mahasiswa Teknik Elektro semester 3.

“Kak,” lelaki kecil itu memanggil.

“Iya?”

“Lo serius?”

“Apanya?”

“Suka sama gue?”

Ajax mengangguk. Keduanya kini tengah duduk di bangku taman sembari memegang satu cup coklat panas di tangan masing-masing.

“Serius,” jawab yang lebih tinggi.

“Sejak kapan?”

“Nggak tau, lupa. Pokoknya tau-tau gue udah sayang aja sama lo. Yah, walaupun lo galak banget sih, kadang,” jawabnya disertai kekehan kecil.

Scara mempererat genggaman pada cup coklat hangatnya. Berkali-kali ia terlihat mengatur nafasnya di tengah dinginnya salju kali ini.

“Cil, kok diem aja?”

Ajax acap kali memanggil Scara dengan sebutan Kecil, yang terkadang berakhir dengan tatapan sinis dari Scaramouche. Tidak, Scara tidak benci sapaan itu, memang pembawaan Scara saja yang selalu sensi dengan tingkah laku Ajax.

“Ra,” Ajax kembali memanggilnya.

“Kak.”

“Ya?”

“Kayaknya gue juga,”

“Juga apa?”

“Suka sama lo.”


Sudah 3 tahun sejak kelulusan Ajax dari universitas, dan sudah 3 tahun pula ia merasa kesepian. Snezhnaya masih saja dingin seperti biasa, salju yang turun sudah seperti makanan sehari-hari warga setempat.

Sepulang bekerja dari kantor, Ajax memilih untuk bersinggah di salah satu cafe tak jauh dari apartemennya. Ia memarkir mobilnya, melepas seatbeltnya, lalu berjalan santai menuju cafe.

“Satu coklat panas dan satu Russian Honey Cake ya. Terima kasih,” pesannya.

Ajax memilih duduk di dekat jendela. Salju hari ini nampaknya turun lebih lebat dari biasanya. Ia merapikan lilitan syal di lehernya dan beberapa kali menggosok tangannya. Meski sudah puluhan tahun tinggal di Snezhnaya, Ajax acap kali masih merasa kedinginan.

Pesanannya sudah sampai, coklat panas dan kue madu khas Russia, atau yang biasa disebut Medovik. Ajax mulai menyeruput minumamnya. Hangat dari minuman tersebut ternyata dapat menghalau sedikit rasa dingin di tubuhnya.


“Selamat satu tahun, kecil,” lelaki surai oranye tersebut menatap ke arah sang kekasih, binar matanya sungguh memperlihatkan kebahagiaan.

“Selamat satu tahun juga, kak Ajax.”

“Mana sayangnya?”

“Kak Ajax sayang,” jawabnya gusar.

Usai bertukar hadiah sebagai peringatan hari jadi satu tahunnya, Ajax lalu memeluk si Kecil dengan hangat.

“Aku buka hadiahnya sekarang ya,” ucap Ajax yang lalu dijawab dengan anggukan.

“Wahh, syal? Kamu ngerajut sendiri?” sorot mata Ajax seketika berbinar setelah ia membuka kotak berisi syal berwarna merah marun tersebut.

“Iya, hehe.”

“Belajar merajut dari mana?”

“Dari youtube, kak.”

Ajax spontan meraih kedua tangan si Kecil, tampak beberapa ujung jari yang terlapisi plester.

“Kamu belajar ngerajut sampe jari kamu luka-luka?” tanyanya khawatir.

“Cuma luka kecil, nggak sakit kok,” jawabnya santai.

Scara lalu meraih syal merah itu dari tangan sang kekasih, dilingkarkannya syal tersebut pada leher sang kekasih.

“Nah, udah cakep,” ucap Scara.

Sorot mata Ajax menatap lekat ke arah sang kekasih. Binar matanya tidak dapat disembunyikan lagi. Laki-laki ini, benar-benar mencintai sosok di hadapannya.

“Makasih banyak, sayang,” ucapnya.


Cafe tempat Ajax berdiam diri tiba-tiba saja memutar lagu melalui speaker, sepertinya untuk memecah keheningan sore ini.

Matanya kembali menatap ke jendela. Langit sudah mulai petang dan salju turun lebih lebat dari sore tadi. Ajax bahkan sudah memesan 2 cangkir coklat panas untuk menghangatkan tubuhnya.

Ajax lalu mengeluarkan ponsel dari saku padding jacketnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tapi dirinya masih enggan untuk pulang ke apartemennya.


“Kak. Mau sampe kapan kayak gini?” lelaki kecil itu berbicara pada Ajax yang tengah sibuk merebahkan badannya di atas ranjang.

“Apa lagi sih, Ra? Aku capek.”

“Aku tau kakak capek. Tapi bisa nggak, seenggaknya bersihin barang-barang kamu? Kamu nggak tinggal sendirian, kak.”

“Ra, aku capek seharian bimbingan sama dosen dan ngurus skripsian. Bisa nggak sih stop marah-marah ke aku? Tenang aja, pasti bakal aku beresin, tapi nggak sekarang. Aku lagi capek.”

“Cih. Ngerepotin,” si kecil itu mendecih kesal.

“Bilang apa barusan?”

“Nggak.”

“Aku nggak budek, Scara.”

“Aku bilang kakak ngerepotin. Puas?”

Ajax bangun dari posisi rebahannya.

“Ngerepotin? Aku nggak pernah minta kamu buat beresin kamarku. Kamu yang ngerepotin diri kamu sendiri.”

“Ya itu karena kakak nggak pernah bisa beresin kamar. Kakak tau aku paling benci liat tempat kotor.”

“Seriously, Scara? Kamu marah karena hal kecil kayak gitu? Di saat kayak gini? Di saat aku bilang aku lagi capek banget karena skripsian dan semuanya.”

“Ngerjain skripsi bukan berarti kakak melalaikan tanggung jawab ya. Aku juga capek. Udah bener dulu kita nggak usah pindah ke apartemen. Sekarang apa? Kita nyewa apartemen buat berdua, tapi selalu aku yang ngurusin semuanya.”

“Kamu pikir aku nggak capek? Aku stress ngurusin skripsian dan kerjaan part time. Bisa nggak sih, sekali aja, kamu ada buat aku di saat aku lagi capek? Bukannya malah marah-marah begini.”

“Kak. Kamu pikir selama ini aku di mana, hah? Aku selalu tanya kakak ngapain aja hari ini, ada masalah apa nggak, mau cerita sesuatu nggak, tapi apa? Jawaban kakak selalu aku capek Ra, aku tidur dulu ya. Dan kakak bilang aku nggak pernah ada buat kamu? You're so funny, Kak.

“Cukup, Ra. Terserah kamu. Aku capek.”

Lelaki tinggi itu beranjak dari kasurnya. Ia meraih jaket yang tergantung di dinding dengan asal.

“Aku nggak tidur di apart malam ini,” ucapnya sembari menutup pintu unit apartemen mereka.


Ajax membuka galeri foto di ponselnya. Sudah 3 tahun berlalu, dan sudah 3 tahun itu pula Ajax masih menyimpan foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Kalau saja, kalau saja malam itu Ajax tidak tidur di tempat sahabatnya, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ia masih mengingat semuanya dengan jelas. He remember it all too well.


Ponsel Ajax berdering saat ia baru saja tiba di apartemen sahabatnya, Kaeya.

Scara: Aku mau putus.

Ajax: Kamu apa-apaan sih?

Scara: Kamu yang apa-apaan kak. Bukannya selesain masalah, malah lari dari tanggung jawab dan minggat entah ke mana.

Ajax: Aku nginep di tempat Kaeya.

Scara: Terserah. Aku nggak peduli. Besok pagi aku pergi.

Ajax: Ke mana?

Scara: Balik ke asrama. We're over now. Aku nggak mau lagi tinggal sama kakak. Sekarang kamu bebas. Nggak akan ada yang marahin kamu lagi kalo apartemenmu berantakan kak.

Ajax: Fine. Terserah. Lakuin aja apa yang kamu mau.


Ajax melihat satu foto dirinya dengan mantan kekasihnya 4 tahun silam. Ia mengenakan syal berwarna merah muda di foto itu yang merupakan hadiah hari jadi mereka yang pertama. Hari ini pun, Ajax mengenakannya. Meski sudah sedikit usang, Ajax masih menyimpannya baik-baik.

Hari ini adalah tepat 3 tahun sejak hubungan mereka berakhir, dan selama 3 tahun ini pula, Ajax tak bisa berhenti menyalahkan dirinya setiap hari.

Terlalu banyak kata “seandainya” dan “seharusnya” dalam kepala Ajax. Namun kini yang tersisa hanyalah penyesalan. Ajax bangkit dari kursinya. Sudah hampir 3 jam ia duduk berdiam di cafe tersebut untuk sekadar menyaksikan salju turun sembari mengingat kenangannya dengan sang mantan kekasih.

Ajax berjalan santai, bersiap untuk pulang, saat tiba-tiba sorot matanya dikagetkan oleh sosok yang sama sekali tidak ia duga.

“Scara.....?”

Lelaki kecil itu, berjalan sendiri memasuki cafe tersebut.

“Kak Ajax?” jawabnya.

Jantung Ajax berdegub sangat kencang. Sangat kencang hingga rasanya mau copot.

“Ah.. A-apa kabar?”

“Kabar baik. Oh, maaf kak, aku buru-buru mau beli minum untuk pacarku. Aku ke kasir duluan ya kak. Sampai ketemu lagi.”

Ajax hanya bisa terdiam. Buru-buru ia berlari menuju mobilnya. Ia terdiam, merasakan dadanya sakit dan bergumuruh.

Seandainya saja, Ajax tidak tidur di rumah sahabatnya kala itu, semua pasti baik-baik saja. Seharusnya, Ajax menuruti permintaan kekasihnya untuk sekadar membersihkan kamarnya.

Ajax menyesal. Ia menyesal karena ia sadar bahwa di musim-musim dingin yang selanjutnya, salju selalu terasa begitu dingin hingga menusuk tulangnya, tepat setelah ia kehilangan si kecil yang selalu menjadi sumber kehangatannya.

I search for you in my memory. We were holding hands while walking back then. It was a warm winter. Everything was beautiful back then.

© cereniteas, 2021.