first kiss

“Xiao, bangun. Kita udah sampe di rumahku”

Xiao terbangun setengah sadar.

“Gendong”

Hah. Albedo sedikit terkejut dengan ucapan Xiao. Ia tidak menyangka Xiao akan seclingy ini saat mabuk.

“Nggak bisa. Kamu berat, nggak kayak Klee sama Qiqi. Udah yuk jalan aku bantuin”

Setelah masuk ke dalam unit apartment Albedo, Xiao berjalan lunglai menuju sebuah pintu kaca di salah satu sudut ruangan.

“Kenapa berdiri di depan pintu?”

“Keluar”

“Hah?”

“Mau keluar”

“Di luar dingin, ini udah jam 12 lebih”

Pintu kaca besar itu tersambung langsung dengan balkon. Unit apartemen Albedo terletak di lantai 5 dan ia sering kali bersantai di balkon sembari memandangi bintang-bintang yang kemerlip.

“Mau ke luaarrr Albedoooo”

Albedo kembali mengambil nafas panjang. “Iya iya, aku buka pintunya”

Dan di sinilah, dua lelaki tersebut berdiri bersampingan di bawah terangnya cahaya bulan dan bintang. Entah kenapa, udara di jam setengah 1 pagi hari ini tidak terasa begitu dingin.

Xiao mulai merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan satu bungkus rokok dan pemantik. Segera ia menyalakan satu batang rokok dan menyesapnya.

“Xiao! Kamu ngerokok?!”

Albedo yang sedari tadi hanya menatap langit baru tersadar saat ia mulai mencium asap rokok.

Xiao hanya mengangguk.

“Xiao kamu masih belum sober sepenuhnya, jangan ngerokok dulu”

Xiao hanya menggeleng.

“Xiao.. Aku mohon, matiin ya rokoknya”

“Boleh aja tapi nanti gantiin pake bibir kamu”

“Hah? Tuh kan kamu mabuk banget ngomongnya ngelantur”

Xiao mendadak menoleh tepat ke arah Albedo. Keduanya saling berhadapan dengan batang rokok yang masih menempel di bibir Xiao.

Albedo spontan menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya, tak mau mencium asap rokok yang disebabkan lelaki di hadapannya.

“Matiiin”

“Apanya?”

“Rokokku. Kamu yang matiin”

Albedo sama sekali tidak tahu harus menghadapi Xiao bagaimana. Ia akhirnya memilih untuk mengambil batang rokok yang masih menempel pada bibir Xiao.

“Bibir aku sekarang kosong” Ucap Xiao setelah Albedo berhasil mematikan rokoknya.

“Maksud kamu?”

Di jarak sedekat ini, bohong kalau Albedo berkata jantungnya baik-baik saja. Albedo bisa menatap jelas paras Xiao yang masih setengah mabuk. Sorot matanya yang sayu, rambutnya yang sedikit acak-acakan, dan bibirnya. Albedo dapat menatap jelas bibir Xiao dari jarak sedekat ini.

Nafas Albedo tertahan sepersekian detik saat ia merasa ada sesuatu yang menabrak bibirnya dengan cepat. Xiao. Xiao menciumnya tepat di bibir saat Albedo masih menatap paras Xiao. Mata Albedo membesar seketika.

Merasa tidak ada respon apapun dari Albedo, Xiao yang mabuk mulai memainkan giginya. Ia menggigit kecil bibir bawah Albedo, memberikan sentakan pada Albedo hingga ia melepas paksa ciumannya.

“Xiao?! Kamu gila?!” Nafas Albedo terengah-engah pasca kegiatan menyapa bibir selama kurang lebih 15 detik itu.

Xiao hanya diam. Ia menatap Albedo dengan pandangan yang belum pernah Albedo lihat sebelumnya. Seolah memberikan sinyal bahwa Albedo tidak mungkin bisa lari dari situasi saat ini.

“Xiao.. Nggak bisa begini. Kamu masih mabuk. Balik ke kamar ya, aku ambilin air putih terus kamu tidur”

Xiao hanya menggeleng. Ia kembali memandang bibir ranum Albedo untuk beberapa saat. Membuat si empunya bibir merinding.

“May I kiss you again?” Xiao berucap, membuat kekhawatiran di dada Albedo berubah menjadi sebuah perasaan tak menentu. Tentu saja, Albedo tidak akan menolak jika Xiao mengajaknya berciuman, tapi tidak di saat Xiao sedang mabuk berat. Ia tidak ingin menjadi laki-laki brengsek yang mengambil kesempatan dari orang yang sedang mabuk.

Merasa diabaikan, Xiao kembali menghapus jarak diantara keduanya, namun Albedo lebih dulu menepisnya.

“No. You'll regret this, Xiao”

“Just once. I wanna kiss you so bad, Al”

Kalimat tersebut seolah mencairkan dinding pertahanan dalam hati Albedo. Persetan. Ia sudah tidak peduli lagi. Dirinya juga ingin menikmati bibir lelaki di hadapannya ini.

“Alright, you're gonna forget this once you sober anyway”

“No. I will never forget this moment, Albedo”

Malam itu, di bawah terangnya sinar bintang, semesta seolah mengizinkan keduanya untuk saling bersapa.

Xiao memiringkan kepalanya, mengikis jarak diantara keduanya sampai nafas saling terhembus di antara wajah masing-masing. Mata keduanya terpejam, lalu kembali menjamah bibir lelaki di hadapannya. Kedua tangan dilingkarkan pada leher, yang dijamah membalas pagutannya dengan lihai.

Sang pemilik surai hujau tak mau kalah, ia kembali memainkan giginya dan menggigit pelan bibir bawah Albedo, membuat lelaki di hadapannya tersentak dan membuka mulutnya. Kesempatannya terbuka lebar, ia segera memainkan lidahnya, melumat acak mengikuti instingnya. Menyesap setiap inchi sudut di bibirnya.

Lengkuhan kecil akhirnya lolos dari bibir si pirang, membuat yang di hadapannya tersenyum kecil. Keduanya kembali melanjutkan aktivitasnya. Tidak ada yang mau mengalah, Albedo juga menyesapkan lidahnya. Benda tanpa tulang itu saling melilit satu sama lain.

Meraup bibir Albedo lebih dalam, Xiao kembali menghabisi bibir Albedo, membuat si pemilik mengeluh dan berakhir dengan rambut belakangnya yang diremas kuat oleh Albedo.

Pagutan mereka terputus, saliva sudah rampung mengotori dagu dua insan yang bercumbu dengan sengit ini. Berantakan, keduanya benar-benar berantakan.

Kecupan lembut kembali mendarat di bibir Albedo sebagai penutup dari acara bercumbu malam itu.

“I love you, Albedo”